Feeds:
Tulisan
Komentar

Belajar, Kangen Indonesia, dan Mimpi Membangun Negeri

Oleh Ibnu Adam Aviciena

Ada berapa sih mahasiswa Indonesia di Belanda saat ini? Tidak ada yang bisa jawab, termasuk pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PII) dari masing-masing kota. KBRI tidak punya datang lengkap karena tidak semua mahasiswa Indonesia di Belanda melaporkan dirinya ke mereka. PII tidak tahu karena cukup sulit mendata mahasiswa. Pernah PPI Leiden berusaha mendata mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Leiden dengan cara mengirimkan formulir melalui milis, namun tidak berhasil.

Lanjut Baca »

Oleh Ibnu Adam Aviciena

 

Sejak ditetapkan sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXII untuk 17-24 Juni 2008, Banten tampak menanggapi amanah tersebut dengan cukup sigap. Persiapan di sana sini dikerjakan. Namun demikian, ada ironi di Banten berkenaan dengan lomba pembacaan ayat al-Qur’an ini. Satu sisi, pada prinsipnya MTQ ini baik, akan tetapi pada sisi yang lain pemerintah telah menetapkan anggaran yang sangat besar, yaitu 43,7 M. Tidak saja itu, pada saat yang sama diberitakan juga bahwa di Banten ribuan bayi mengalami gizi buruk, ditambah berita beras untuk orang miskin (raskin) yang berkurang lima sampai dengan 10 kilogram dari setiap karungnya, dan parahnya beras yang sudah menyusut tersebut tidak ada rasanya karena kualitasnya buruk.

 

MTQ Nasional XXII

 

Berkenaan dengan persiapan MTQ, pada Juni 2007 Banten sudah mulai bekerja di antaranya pemasangan lampu jalan dan pengurugan tanah di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Kecamatan Curug, tempat di mana acara MTQ akan dipusatkan. Desember 2007 Kepala Biro Kesejahteraan Banten menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan MTQ. Hal ini dilakukan, katanya, agar Banten mendapat kepercayaan dari peserta MTQ dan tamu acara. Bahasa sederhananya, Banten tidak ingin mengecewakan. Selanjutnya, pada 22 Oktober Gubernur Atut Choisiyah melalui SK Gubernur Banten No. 451.15/KEP.674-Huk/1007 menetapkan kepanitiaan MTQ.

 

Dengan ditunjuknya Banten sebagai tuan rumah, pemerintah Banten juga tampak begitu baik hati. Saat masyarakat di sekitar tempat pelaksanaan MTQ akan digelar, meminta pemerintah agar memperbaiki jalan dan memasang listerik, hal itu langsung ditanggapi dengan menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Pertambangan dan Energi (DPE) agar merealisasikan permintaan warga tersebut. Artinya, secara tidak langsung ini bisa difahami bahwa selama ini jalan di wilayah tersebut rusak dan masyarakat tidak memiliki instalasi listerik.

 

Berita mengejutkan berkenaan dengan MTQ ini turun di koran lokal pada minggu pertama Februari 2008. Pemerintah menyatakan bahwa pelaksanaan MTQ membutuhkan dana 31,5 M. Selain itu, pemerintah juga akan mengeluarkan dana sebesar 94,3 M untuk kepentingan pembangunan masjid raya dan pusat kajian Islam.

 

Kemampuan pemerintah Banten dalam membuat kejutan tidak selesai sampai di sana. Satu minggu kemudian Gubernur Atut Choisiyah mengumumkan bahwa panitia MTQ masih membutuhkan tambahan uang sebanyak 11 M dari 31,5 M yang baru dimumkan seminggu sebelumnya. Untuk menutupi “kebutuhan” tersebut pemerintah Banten memangkas honor pegawai sebesar 25% dari semua Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ada di Banten. Tidak lama berselang, Panitia MTQ Nasional XXII, Pemerintah Provinsi, dan DPRD Banten, berdasarkan hasil rapat pada 14 Februari di Bogor, menetapkan untuk meminta tambahan 12 M lagi, bukan 11 M. Jadi perkembangan terakhir MTQ tersebut akan menghabiskan uang sebesar 43,7 M.

 

Banten memang bersungguh-sungguh dalam menyiapkan pengelanggaraan MTQ Nasional XXII. Sebagai sebuah acara tingkat nasional, acara tersebut bisa menjadi ukuran akan kemampuan Banten dalam mengelola sebuah acara. Hal tersebut difahami betul oleh Gubernur Atut Choisiyah. Karena itu, ia pun bahkan sampai memerintahkan bawahannya agar menyiapkan pawang hujan yang banyak. Permintaan sang Gubernur tersebut ditanggapi oleh Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Banten Agus Randil dengan mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki 20 pawang hujan.

 

 

Gizi Buruk dan Raskin

 

Di saat pemerintah Banten gila-gilaan menetapkan anggaran untuk kepentingan acara selama delapan hari itu, dan untuk menutupi kekurangan dana tersebut mereka dengan tega memangkas honor pegawai, terselip berita bahwa di Banten ribuan bayi mengalami gizi buruk. Di Kabupaten Lebak tahun 2005 tercatat 1.780 balita mengalami gizi buruk, tahun 2006 sebanyak 1.340, dan tahun 2007 sebanyak 1.450, enam di antaranya meninggal. Dinas Kesehatan Banten mencatat sepanjang tahun 2006 di Banten terdapat 10 ribu bayi mengalami gizi buruk, sedangkan tahun 2007 tercatat 9.700 bayi bergizi buruk. Mengingat tahun 2008 baru berselang dua bulan, bayi bergizi buruk di tahun ini belum ada laporan.

 

Selain angka bayi bergizi buruk yang sangat tinggi, masih pada minggu yang sama Banten diramaikan lagi oleh berita raskin yang berkurang sebanyak 4-10 kilogram dari setiap karung. Keluhan itu terutama disampaikan oleh warga dari Kabupaten Serang dan Pandeglang. Tidak itu saja, sejumlah masyarakat mengaku bahwa beras tersebut tidak ada rasanya. Di lain tempat, saat dilakukan pengecekan ditemukan beras sudah berkutu. Sementara Badan Urusan Logistik (bulog) Banten, seperti ditulis Republika pada 19 Februari, menjelaskan bahwa penyusutan hanya terjadi ‘pada satu karung saja dari 31.600 karung beras.’

 

Ironi Banten

 

Tiga berita yang muncul hampir bersamaan, MTQ Nasional XXII, gizi buruk, dan raskin yang menyusut dan tak berasa, menghadirkan ironi yang luar biasa. Satu sisi, sebagaimana saya tegaskan di awal, untuk urusan yang ada uangnya, pemerintah Banten dengan sangat bersungguh-sungguh bekerja menyiapkan acara MTQ Nasional. Bahkan, saat Banten tidak memiliki cukup danapun pemerintah berjuang keras dengan cara memotong honor pegawainya. Pernyataan Gubernur Atut Choisiyah yang muncul, ia tidak ingin acara tersebut mengecewakan sebab ini acara nasional.

 

Apabila qori dan qoriah saat MTQ berlangsung membaca surat-surat dan ayat-ayat al-Qur’an, maka akan banyak ditemui ayat-ayat yang mengharuskan Muslim untuk memelihara orang miskin dan yatim. Perintah tersebut bisa kita temui di surat Al- Baqarah: 83, 177, 184, 215, 271, 273, An-Nisaa’: 46, 48, 36, 135, Al-Maaidah: 89, 95, Al-An’aam: 53, Al-Anfaal: 41, At-Taubah: 60, Al-Hijr: 88, dan Al-Israa’ 26.

 

Kalau kemudian motto Banten ‘Iman Taqwa’ harus diterjemahkan dengan cara seperti ini, mengadakan acara seremonial dengan biaya milyaran, sementara bayi-bayi dari keluarga miskin harus terus menerus mengalami kekurangan gizi, dan bahkan beras untuk merekapun harus dikurangi dan berkutu, maka pertanyaannya: di mana Iman dan di mana Taqwa? Seperti kata penyair Banten Toto ST Radik, ‘Iman Taqwa’ hanya menjadi hiasan.**

 

Oleh Ibnu Adam Aviciena

 

Nasibku di awal tahun baru ini betul-betul malang. Semua file yang ada di laptopku hilang karena ia hang dan aku harus menginstal ulang. Awal masalahnya memang bagaimana? Begini kawan:

Kamukan tahu sendiri aku ini tidak bisa hanya mengerjakan satu pekerjaan saja. Aku harus mengerjakan tiga empat pekerjaan bergantian dalam waktu dekat. Misal begini: aku harus menulis makalah kuliah A dan B. Aku tidak bisa hanya mengerjakan makalah A sampai selesai baru ganti ke makalah B. Aku harus mengetik makalah A, dapat satu halaman aku ganti lagi ke makalah yang lain. Dapat satu halaman, aku buka internet dulu, kemudian aku ganti baca buku, baca cerita pendek, dan seterusnya. Nah, makalahku yang satu sudah 10 halaman dan yang satunya baru 3 halaman. Sengaja dari beberapa minggu lalu aku segera mengerjakan, dengan harapan akan ada waktu longgar buat aku mengerjakan hal lain. Misalkan, jalan-jalan. Yang terjadi, kamarin malam aku ngotak-ngatik ini itu di laptopku. Aku membuka lebih dari sebelas program sekaligus. Lalu sedikit hang dan ikon-ikon di wallpaper muncul dan hilang. Dengan begitu aku tidak bisa membuka program apapun. Penyelesainya satu: diinstal ulang.

Masalahnya bukan di instalasi, melainkan aku sudah lebih dari dua bulan tidak memindahkan data-data yang ada di laptop. “Berapa file yang hilang?” tanya Saras temanku. Dengan sedih aku jawab, “Ratusan…” Foto-fotoku yang aku ambil dari Maastricht hilang semua. Foto-foto saat salju turun juga gilang. Tentu saja foto bukan masalah besar. Aku bisa mengulangi lagi, lain kali. File-file lain tentu saja penting. Tetapi selagi masih bisa aku cari, masalah itu bisa aku selesaikan. Masalah besarnya adalah makalahku! Memang sih cuma 10 dan 3 halaman. Tetapi itu adalah hasil kerja kerasku. Sengaja aku memulai dari dulu-dulu agar aku tidak kepepet, mengingat akhir Januari harus aku serahkan. Itu juga aku lakukan karena sering ada kegiatan tak terduga.

File-fileku sudah hilang. File-file lama memang masih ada di external harddisk. Tetapi file-file baru, entah apa saja, sudah hilang dimakan kesialan.

Aku kira masalah ini terjadi karena aku tidak menghentikan downloading saat ada pemberitahuan dari Avast bahwa ada virus masuk. Aku merasa oke-oke saja, sebab Avast sangat ampuh. Sampai berbulan-bulan komputerku aman dijaga Avast. Sekarang Avast kecolongan. Bukan Avast yang kecolongan! Aku!

Herannya aku tidak marah. Kesal? Tidak juga. Sedih? Mmm…. Agak. Perasaanku yang tepat adalah sayang. Sayang saja aku sudah bekerja bercapek-capek, hasilnya hilang begitu saja. Sayang saja aku harus mengulang lagi, dan itu artinya aku harus menyediakan waktu lagi, harus makan lagi, harus begadang lagi. Artinya apa? Dari file yang hilang itu efeknya ke mana-mana. Ke waktu, ke stok makanan, ke agenda yang harus ditata lagi, dan seterusnya.

Kejadian komputer macet dan selanjutnya file-filenya hilang ini bukan yang pertama. Selagi aku tinggal di Smaradgdlaan juga pernah dua atau tiga kali. Dan musibah semacam ini tidak saja menimpa aku seorang, melainkan teman-temanku juga. Tadi sore aku berangkat ke Smaragdlaan lagi menemui teman-temanku yang tinggal di sana. Tujuan utamanya sih aku mencari CD Windows punya temanku, Mas Udin. Punyaku huruf-huruf kuncinya tidak pas. Syukur, setelah satu jam lewat komputerku bisa aku pakai lagi.

Tadi sore itu teman-temanku, Sugi di antaranya, menyarankan aku untuk menyimpan file-file di e-mail. Katanya mereka biasa begitu. Masalahnya Komandan, masalah fileku yang hilang sudah terjadi! Saran kalian tidak bisa menyelamatkan file-fileku yang sudah mati, sudah dikubur oleh kesialan yang menimpaku.

Makalahku tentu saja tidak keren, tak ada yang baru. Aku cuma menyusun ulang apa yang sudah ditulis orang. Aku tidak menemukan sesuatu yang membuat dunia akan berubah lewat makalahku. Tetapi Komandan, di makalah itu ada darahku! Kehilangan makalah berbarti kehilangan sebagian darahku. Artinya pula aku kehilangan sebagian diriku. Dulu, tahun 2003 atau 2004, aku mengetik novel di rental komputer. Aku tidak punya komputer. Aku sudah dapat menghasilkan 50 halaman satu spasi novel. Novel itu sangat mungkin tidak menarik. Masalahnya di setiap baris novelku itu ada tarikan nafasku.

Perasaan sayang, mungkin juga sesak karena tulisan hilang, bukan cuma menimpa aku seorang. Teman-temanku yang lain juga pernah mengalami hal demikian. Dan rasanyapun sama: kurang lebih sesak nafaslah. Pramoedya, penulis yang tetraloginya sangat aku kagumi, juga kehilangan tulisannya. Aku tidak tahu bagaimana dia merasa marahnya kepada militer yang mengambil dan menghilangkan novel-novelnya. Kalau aku, makalahku hilang karena aku. Di dalam novel itu ada ribuan tarikan nafasnya. Aku juga tidak bisa membayangkan orangtua yang kehilangan anaknya. Anak juga karya dari sekian tarikan nafas. Dijaga sembilan bulan di rahim, sudah lahir disusui, dikasih makan, di sayang-sayang. Eh, tidak terbayang perasaan orang tahu saat tahu anaknya jadi bejat, atau jadi anak baik tetapi ditampar orang lain.

Aku ngomong panjang lebar begini, sebetulnya hanya sebuah cara agar emosiku kembali stabil setelah mengalami nasib buruk ini. Dengan menyalurkannya melalui diari ini, aku bisa memulai menulis makalahku. Hilang makalah, kembali lagi menulis. Waktu masih ada. Hilang foto-foto, aku bisa kembali memotretnya. Aku cuma kehilangan foto. Temanku Faik kehilangan kamera. Temanku Fathan kameranya jatuh di jalan raya dan rusak. Jadi, sebetulnya setiap orang punya masalah. Anggap saja aku naik sepeda punya Lina sampai ngos-ngosan ke Smaragdlaan sebagai olahraga, anggap saja aku menulis makalah yang hilang itu sebagai pemanasan, anggap saja semuanya sebagai proses menuju kesempurnaan.

 

Leiden, 2 January 2008, 11:28PM

 

 

 

Oleh Ibnu Adam Aviciena

 

Aku baru saja selesai ngesyut langit Leiden. Ada apa memang? (Ada-ada saja) Ada kembang api dan petasan! Sekarangpun masih terdengar ledakan-ledakannya. Sejak tadi sore orang sudah membakari petasan. Tadi sore sih belum ngeuh tidak biasanya orang meledakan petasan. Sudah malam baru inget bahwa orang meledak-ledakan petasan karena malam ini malam terakhir tahun 2007, besok pagi sudah tahun baru 2008. Jadi, sejenis ucapan selamat tinggal 2007 dan selamat datang 2008.

Teman serumahku mengajak aku keluar untuk melihat bagaimana orang Belanda merayakan tahun baru. Aku bilang aku lagi malas ke luar. Mereka sempat ragu untuk keluar sebab sampai pukul 11 malam belum terdengar keramaian. Tetapi pada akhirnya mereka memutuskan pergi. Aku sendiri memilih tinggal di rumah.

Sekian lama kemudian terdengar suara ledakan-ledakan, tidak saja dari jauh melainkan juga di depan rumah. Kebetulan aku sedang mengetik. Begitu aku lihat jam di komputer, jam tepat pukul 12 malam. Karena aku duduk dekat gorden, langsung saja aku buka. Di luar cahya melesat-lesat diiringi ledakan luar biasa dan terus menerus. Aku menyaksikan langit yang meriah. Karena ledakan terus menerus dan langit semakin cantik, aku segera saja berlari naik tangga untuk mengambil handycamku di kamar. Dari kamarku di lantai dua: dapur naik tangga, kamar-kamar temanku, naik tangga lagi, baru kamarku. Dari sana aku merekam langit Leiden yang warna-warni dan ramai sekaligus bau petasan.

Lama aku membiarkan kaset merekam suara berisik dan langit gelap karena asap hingga kasetku habis. Saat aku pakai itu sisanya sekitar 20 menit. Tadinya aku mau memutuskan untuk mengganti dengan kaset yang ada di meja. Aku rasa video yang ada di dalam kaset itu belum aku transfer. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan bagian awal kaset tadi, kaset yang sudah ada di dalam handycam. Sudah selesai merekam sisa keramain, aku cek ujungnya. Ternyata kaset itu adalah kaset yang merekam hujan salju dan aku, lagi, belum memindahkan video itu ke hardiskku. Aku kehilangan sebagian video saljuku.

Saat aku merekam udara Leiden yang berisik dan bau, aku perlahan merasa mundur ke masa lalu, ke saat aku masih Tsanawiyah bulan Ramadhan, sekitar tahun 1996. Di kampungku ramai sekalai. Kembang api mekar di langit, sementara udara meledak-ledak. Mereka, orang-orang di kampungku, membeli petasan dan kembang api dariku. Tetapi tentu saja ramainya saat itu tidak sebanding dengan di sini saat ini.

Tentang petasan, kakaku dulu penjual petasan. Dia biasa beli dari Parung Bogor. Keuntunganya dia belikan sepeda. Saat itu aku masih SD. Lalu aku juga berkali-kali pada musim Ramadan jualan petasan. Pada satu Ramadan satu kardus petasanku diambil polisi. Yang kecewa, aku punya teman dan temanku punya teman anak polisi. Kami bermain dan anak polisi main petasan bersamaku.

Bau petasan dan warna-warninya langit Leiden membangkitkan ingatanku akan hal itu. Aku merasa bahwa malam ini adalah malam lebaran. Aku merasa orang-orang yang sedang membakari petasan dan kembang api di bawah adalah temanku. Aku merasa perpaduan jalan Koningstraat dan jalan Prins Hendrikstraat adalah salah satu lorong di kampungku, dalam ingatanku.

Mereka, malam ini, membakari kembang api untuk menandai perpindahan waktu. Dosenku beberapa minggu yang lalu bilang, aku lupa kalimat dianya, bahwa waktu itu tidak jelas (entah apalah bahasa yang tepat). Dan yang dilakukan orang-orang adalah menandai perubahannya. Orang naik pangkat dirayakan, ulangtahun diperingati, mati “dipestakan”. Dalam hal ini, ramai-ramai membakari kembang api adalah ritual sebagai penanda perpindahan waktu.

 

Leiden, 1 Januari 2008; 1:34 am

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »