Oleh Ibnu Adam Aviciena
Sejak ditetapkan sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXII untuk 17-24 Juni 2008, Banten tampak menanggapi amanah tersebut dengan cukup sigap. Persiapan di sana sini dikerjakan. Namun demikian, ada ironi di Banten berkenaan dengan lomba pembacaan ayat al-Qur’an ini. Satu sisi, pada prinsipnya MTQ ini baik, akan tetapi pada sisi yang lain pemerintah telah menetapkan anggaran yang sangat besar, yaitu 43,7 M. Tidak saja itu, pada saat yang sama diberitakan juga bahwa di Banten ribuan bayi mengalami gizi buruk, ditambah berita beras untuk orang miskin (raskin) yang berkurang lima sampai dengan 10 kilogram dari setiap karungnya, dan parahnya beras yang sudah menyusut tersebut tidak ada rasanya karena kualitasnya buruk.
MTQ Nasional XXII
Berkenaan dengan persiapan MTQ, pada Juni 2007 Banten sudah mulai bekerja di antaranya pemasangan lampu jalan dan pengurugan tanah di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Kecamatan Curug, tempat di mana acara MTQ akan dipusatkan. Desember 2007 Kepala Biro Kesejahteraan Banten menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan MTQ. Hal ini dilakukan, katanya, agar Banten mendapat kepercayaan dari peserta MTQ dan tamu acara. Bahasa sederhananya, Banten tidak ingin mengecewakan. Selanjutnya, pada 22 Oktober Gubernur Atut Choisiyah melalui SK Gubernur Banten No. 451.15/KEP.674-Huk/1007 menetapkan kepanitiaan MTQ.
Dengan ditunjuknya Banten sebagai tuan rumah, pemerintah Banten juga tampak begitu baik hati. Saat masyarakat di sekitar tempat pelaksanaan MTQ akan digelar, meminta pemerintah agar memperbaiki jalan dan memasang listerik, hal itu langsung ditanggapi dengan menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Pertambangan dan Energi (DPE) agar merealisasikan permintaan warga tersebut. Artinya, secara tidak langsung ini bisa difahami bahwa selama ini jalan di wilayah tersebut rusak dan masyarakat tidak memiliki instalasi listerik.
Berita mengejutkan berkenaan dengan MTQ ini turun di koran lokal pada minggu pertama Februari 2008. Pemerintah menyatakan bahwa pelaksanaan MTQ membutuhkan dana 31,5 M. Selain itu, pemerintah juga akan mengeluarkan dana sebesar 94,3 M untuk kepentingan pembangunan masjid raya dan pusat kajian Islam.
Kemampuan pemerintah Banten dalam membuat kejutan tidak selesai sampai di sana. Satu minggu kemudian Gubernur Atut Choisiyah mengumumkan bahwa panitia MTQ masih membutuhkan tambahan uang sebanyak 11 M dari 31,5 M yang baru dimumkan seminggu sebelumnya. Untuk menutupi “kebutuhan” tersebut pemerintah Banten memangkas honor pegawai sebesar 25% dari semua Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ada di Banten. Tidak lama berselang, Panitia MTQ Nasional XXII, Pemerintah Provinsi, dan DPRD Banten, berdasarkan hasil rapat pada 14 Februari di Bogor, menetapkan untuk meminta tambahan 12 M lagi, bukan 11 M. Jadi perkembangan terakhir MTQ tersebut akan menghabiskan uang sebesar 43,7 M.
Banten memang bersungguh-sungguh dalam menyiapkan pengelanggaraan MTQ Nasional XXII. Sebagai sebuah acara tingkat nasional, acara tersebut bisa menjadi ukuran akan kemampuan Banten dalam mengelola sebuah acara. Hal tersebut difahami betul oleh Gubernur Atut Choisiyah. Karena itu, ia pun bahkan sampai memerintahkan bawahannya agar menyiapkan pawang hujan yang banyak. Permintaan sang Gubernur tersebut ditanggapi oleh Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Banten Agus Randil dengan mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki 20 pawang hujan.
Gizi Buruk dan Raskin
Di saat pemerintah Banten gila-gilaan menetapkan anggaran untuk kepentingan acara selama delapan hari itu, dan untuk menutupi kekurangan dana tersebut mereka dengan tega memangkas honor pegawai, terselip berita bahwa di Banten ribuan bayi mengalami gizi buruk. Di Kabupaten Lebak tahun 2005 tercatat 1.780 balita mengalami gizi buruk, tahun 2006 sebanyak 1.340, dan tahun 2007 sebanyak 1.450, enam di antaranya meninggal. Dinas Kesehatan Banten mencatat sepanjang tahun 2006 di Banten terdapat 10 ribu bayi mengalami gizi buruk, sedangkan tahun 2007 tercatat 9.700 bayi bergizi buruk. Mengingat tahun 2008 baru berselang dua bulan, bayi bergizi buruk di tahun ini belum ada laporan.
Selain angka bayi bergizi buruk yang sangat tinggi, masih pada minggu yang sama Banten diramaikan lagi oleh berita raskin yang berkurang sebanyak 4-10 kilogram dari setiap karung. Keluhan itu terutama disampaikan oleh warga dari Kabupaten Serang dan Pandeglang. Tidak itu saja, sejumlah masyarakat mengaku bahwa beras tersebut tidak ada rasanya. Di lain tempat, saat dilakukan pengecekan ditemukan beras sudah berkutu. Sementara Badan Urusan Logistik (bulog) Banten, seperti ditulis Republika pada 19 Februari, menjelaskan bahwa penyusutan hanya terjadi ‘pada satu karung saja dari 31.600 karung beras.’
Ironi Banten
Tiga berita yang muncul hampir bersamaan, MTQ Nasional XXII, gizi buruk, dan raskin yang menyusut dan tak berasa, menghadirkan ironi yang luar biasa. Satu sisi, sebagaimana saya tegaskan di awal, untuk urusan yang ada uangnya, pemerintah Banten dengan sangat bersungguh-sungguh bekerja menyiapkan acara MTQ Nasional. Bahkan, saat Banten tidak memiliki cukup danapun pemerintah berjuang keras dengan cara memotong honor pegawainya. Pernyataan Gubernur Atut Choisiyah yang muncul, ia tidak ingin acara tersebut mengecewakan sebab ini acara nasional.
Apabila qori dan qoriah saat MTQ berlangsung membaca surat-surat dan ayat-ayat al-Qur’an, maka akan banyak ditemui ayat-ayat yang mengharuskan Muslim untuk memelihara orang miskin dan yatim. Perintah tersebut bisa kita temui di surat Al- Baqarah: 83, 177, 184, 215, 271, 273, An-Nisaa’: 46, 48, 36, 135, Al-Maaidah: 89, 95, Al-An’aam: 53, Al-Anfaal: 41, At-Taubah: 60, Al-Hijr: 88, dan Al-Israa’ 26.
Kalau kemudian motto Banten ‘Iman Taqwa’ harus diterjemahkan dengan cara seperti ini, mengadakan acara seremonial dengan biaya milyaran, sementara bayi-bayi dari keluarga miskin harus terus menerus mengalami kekurangan gizi, dan bahkan beras untuk merekapun harus dikurangi dan berkutu, maka pertanyaannya: di mana Iman dan di mana Taqwa? Seperti kata penyair Banten Toto ST Radik, ‘Iman Taqwa’ hanya menjadi hiasan.**