Oleh Ibnu Adam Aviciena
Bagaimana kesusastraan di Banten dan kapan tradisi menulis sastra dimulai di Banten? Dua buah pertanyaan yang sederhana namun tidak mudah untuk dijawab. Kesulitan untuk menjawab dua pertanyaan tersebut berasal dari satu sumber masalah, yaitu lemahnya tradisi mencatat dan menyimpan naskah di masyarakat Banten. Perpustakaan Daerah Banten, perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi, dan perpustakaan-perpustakaan komunitas sama sekali masih belum bisa diandalkan. Ini terbukti dengan tidak tersedianya (secara lengkap) karya tulis orang Banten, termasuk karya sastra.
Sastrawan Awal Banten
Penulis sastra Banten awal sepanjang datanya bisa dilacak adalah Partini. Namun ia sebetulnya tidak benar-benar Banten. Mengingat dia lahir di Surakarta (?), sekalipun kemudian menikah dengan orang Banten, Hoesein Djajadiningrat. Mereka sempat tinggal sebentar di Banten, yaitu pada masa awal rumahtangga mereka, selanjutnya mereka hidup di Jakarta.
Pengakuan Partini dalam Partini Tulisan Kehidupan Putri Mangkunagaran (Partini Recollections of a Mangkunagaran Princess), sejak muda dia ingin menulis sastra. Namun bapaknya melarang. Barulah setelah dia menikah, dia memiliki kebebasan untuk menulis. Dengan menggunakan nama samaran Arti Purbani, dia menulis Widiawati (1948), Hasta Cerita (1964), Sepasar Satu Malam (1971), Ande-Ande Lumut (1976), dan Tunjung Biru (1985). Dia juga merupakan penulis Herinnering van Mijn Man (1960).
Sementara Rd. Adjeng Roswitha Tanis Djajadiningrat adalah anak keenam dari delapan dari pasangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat dan Rd. Adj. Soewitaningrat. Dia adalah penulis Herinneringen van een Vrijheidsstrijdster (Den Haag: Nijhoff, 1974). Satu tahun kemudian buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Pengalamanku di Daerah Pertempuran Malang Selatan dan diterbitkan Balai Pustaka. Buku ini sebetulnya ialah sebuah catatan harian selagi ia terlibat di perang tersebut. Hanya saja, cara dia menuliskan diarinya, secara keseluruhan, persis seperti sebuah novel.
Novel Indo-Cina
Hal lain yang perlu mendapat perhatian kita adalah novel-novel yang terbit awal abad kedua puluh di Rangkasbitung, Lebak. Berdasarkan iklan yang ada di koran Pengharapan Banten pada 16 Februari 1924, penerbit Pengharapan Banten, yaitu Drukkerij Klaarwater, menerbitkan sejumlah buku. Kebanyakan dari buku itu adalah fiksi. Beberapa di antaranya ialah “Hoa Tian Kim Giok Yan, Atawa Perdjodoan Jang Loetjoe”, “Saja Poenja Laki, Atawa Djodo Poenja Keras”, “Lim Liong Tjay Atawa Satoe Anak Jang Dapet Membales Moesoeh Ajahnja”, “Njonja Tjan Hoei, Atawa Djadi Korbannja Goena-Goena”, “Perempuan Jang Di Tjinta! Atawa Kahimatan!”, dan lain-lain. Hanya saja ini masih masalah karena saya tidak memiliki informasi siapa penulis novel-novel tersebut. Apakah mereka orang Banten atau bukan.
Selanjutnya, kita bisa melacak tradisi menulis sastra melalui pembacaan koran-koran yang pernah diterbitkan. Khusus untuk di Banten, kita bisa memeriksa bagaimana tradisi mengirimkan puisi, cerita pendek, artikel, dan atau jenis tulisan lainnya dengan memeriksa koran Mimbar (1919-1920), Pengharapan Banten (1923-1924), De Banten Bode (1924-1936), Soerasowan (1929-1930), SiGMA (1990-sekarang), Banten Pos (1993), Meridian (2000), Radar Banten (2000-sekarang), Fajar Banten (2000-sekarang), Banten Raya Post (2006-sekarang), dan Kaibon (2007-sekarang).
Mimbar dengan motto Soeara Sarekat Islam Banten dan Ra’jat jang Mentjahari Keadilan diterbitkan oleh Sarekat Islam (SI) Banten terbit mulai September 1919 hingga Maret 1920. Diterbitkan setiap hari kelima dan daupuluh setiap bulannya, Mimbar lebih banyak memublikasikan berita-berita tentang pemerintahan Banten. Koran yang berkantor di Kaoedjon (Kaujon) 19 ini dikelola oleh Hassan Djajadiningrat, Moehammad Isa, Wangsamihardja, dan beberapa pengurus SI Banten.
Editor “mulut organisasi” ini, bahasa pengurus SI Banten untuk ‘koran’, menyatakan bahwa Mimbar menerima tulisan-tulisan untuk diumumkan di koran tersebut. Namun demikian, hingga edisi terakhir koran ini tidak pernah menaikkan tulisan dari pembacanya. Tulisan-tulisan yang dikirim ke koran ini tidak bisa dinaikan dengan berbagai alasan, seperti karena menggunakan bahasa Sunda, tidak mencantumkan nama asli, tulisan ditulis di kedua halaman kertas, dan seterusnya.
Sastra Koran
Dari koran-koran yang terbit di Banten, koran De Banten-Bode merupakan media massa yang banyak menyediakan ruang sastra. Terbit di (jalan) Heerenstraat, De Banten-Bode misalkan menerbitkan tulisan M.H. v. Leeuwen yang berjudul Een Ouder Jaars Vertelling (Cerita Akhir Tahun) dan tulisan Albert Abbott berjudul Bladeren Vallen (Daun-daun Berguguran). Selain itu, masih banyak cerita-cerita pendek lain yang dimuat tiap edisinya. Tidak itu saja, De Banten-Bode juga menyediakan ruang untuk anak-anak yang disebut Kinderhoekje (Pojok Anak). Kweetergraag Heeft Weer Eens Een Idee, Hans’ Mooiste Verzameling, De Vedelaar Van Regenstein, Slip Eb De Stekel Varkens, dan Elsje en de Gierige Boer adalah contoh judul-judul cerita yang dimuat di kolom tersebut.
Selain dari De Banten-Bode, koran-koran lain yang pernah terbit di Banten, pada masa awal, tidak terlalu banyak menerbitkan karya sastra. Koran Soerasowan yang terbit 1929 misalkan, lebih banyak menurunkan tulisan tentang kemajuan Banten pada masa silam, dan besarnya harapan pengelola koran ini agar rakyat Banten bangkit. Dengan motto awal Soerat Boelanan Oentoek Memperhatiken Kepentiangan Oemoem Teroetama dari Daerah dan Rajat, yang kemudian diganti menjadi Soerat Bulanan Oentoek Memperhatiken Kepentingan Oemoem, Soerasowan dikelola oleh D. Koesoema Ningrat dan T. Achsan.
Sejak Soerasowan tutup, belum ditemukan catatan Banten memiliki media massa lagi. Baru sekitar 60 tahun kemudian terbit SiGMA, Banten Pos, Meridian, Harian Banten (Radar Banten) Fajar Banten, Banten Raya Post, dan tabloid Kaibon.**
Ibnu Adam Aviciena,
relawan Rumah Dunia dan redaktur Kaibon.