Oleh Ibnu Adam Aviciena
Sekedar sedikit mengulang bagian pertama tulisan ini yang dimuat dua minggu lalu, bahwa untuk menaklukan Mesir Prancis memanfaatkan ilmuwan yang ada di Institut d’Egypte. Dalam kasus Belanda terhadap Nusantara, Belanda mengangkat ilmuwan C. Snouck Hurgronje untuk menjadi penasihat kolonial untuk urusan bahasa-bahasa timur dan hukum Islam. Meski akhir dari keduanya berbeda, di mana Prancis gagal dan Belanda berhasil, namun keduanya sama-sama memanfaatkan ilmuwan sebelum mengadakan penaklukan.
Rendahnya Tradisi Meneliti
Lalu bagaimana dengan Banten? Abdul Malik Radar Banten melalui e-mailnya kepada saya mengatakan bahwa, pada masa awal kemunculan Radar Banten, tulisan-tulisan opini yang ada di Radar Banten diambil dari Jawa Pos. Kemudian pada perkembangan selanjutnya ruang opini didominasi oleh tulisan dosen Untirta dan IAIN, serta kadang-kadang dari Universitas Paramadina, Unma, dan STIKOM.
Berbeda dengan Abdul Malik, Wan Anwar melalui tulisannya Koran dan Karya Ilmiah Dosen (Radar Banten, 18 Februari 2008), menegaskan bahwa belum banyak tulisan dosen yang dimuat di koran. Bahkan ia mencurigai bahwa sebenarnya dosen tidak bisa menulis (populer). Ini dibuktikan dengan tidak seimbangnya antara jumlah dosen dengan jumlah tulisan di koran yang ditulis oleh dosen.
Sampai batasan tertentu saya sependapat dengan Wan Anwar, mengingat tulisan-tulisan yang banyak dimuat di koran lokal Banten ditulis oleh dosen yang itu-itu juga. Khusus tulisan yang dimuat di Radar Banten hanya berkisar dari tulisan Wan Anwar (Untirta), Firman Venayaksa (Untirta), Ida Dimyati (Untirta) Maman Fathurrohman (Untirta), Agus Sutisna (Unma, STIE La Tansa Mashiro), Anis Fauzi (IAIN Banten), Mohammad Subhi-Ibrahim (Universitas Paramadina, Uhamka), Dahnil Anzar (STIE Muhammadiyah Kota Tangerang), Suhada (Unma), Abu Suja (STIKOM), dan sejumlah kecil dosen lainnya.
Kecurigaan Wan Anwar bahwa dosen tidak bisa menulis, dengan ukuran publikasi buku oleh perguruan tinggi, semakin jelas, meskipun ada variabel lain yang mesti dihitung. Sebagai gambaran kecil kita lihat penerbitan kampus. Sampai saat ini baru data dari dua kampus yang saya miliki, yaitu Untirta Press (Untirta) dan Suhada Press (IAIN Banten). Pada 2002 Unitrita Press bekerjasama dengan Imaji Indonesia menerbitkan kumpulan puisi Wan Anwar Senja Selesai: Kumpulan Puisi Pilihan 2001-1991. Pada tahun berikutnya, Untirta Press menerbitkan buku Fadlullah Islam Progresif and Politik Dan Otonomi Program Pendidikan Islam Sepanjang Hayat. Sedangkan Suhada Press hanya pernah menerbitkan sebuah buku Ilzamudin Ma’mur. Andaipun masih ada buku-buku lain yang diterbitkan oleh dua penerbit ini, saya yakin jumlahnya tidak banyak.
Pusat Penelitian Banten
Dengan kesadaran bahwa betapa miskinnya tradisi meneliti di Banten, maka harus ada upaya untuk mengatasinya. Dalam hal ini, untuk sementara waktu saya namai sebagai Pusat Penelitian Banten. Saya membayangkan bahwa lembaga ini dikelola oleh dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi di Banten. Sebagai sebuah pusat penelitian, ia bisa bekerjasama dengan LIPI atau pusat-pusat penelitian di luar negeri.
Apa yang bisa diteliti? Semua hal tentang Banten, seperti santet, ziarah ke kuburan, pamali, jampi-jampi, dan seterusnya. Segala hal bisa diteliti. Sekarang bayangkan, pada suatu kesempatan di kelas Anthropology of Muslim Societies dosen saya bilang bahwa seorang mahasiswa akan segera mendapat gelar doktor di Universitas Utrecht, Belanda, untuk hasil penelitiannya. Mahasiswa tersebut menemukan bahwa masyarakat di sebuah wilayah yang ditelitinya, lebih menyukai berkurban dengan ayam, daripada dengan kambing, sapi, atau kerbau. Teman sekelas saya orang Belanda, untuk menyelesaikan S2-nya hanya akan menulis tesis tentang pandangan Muslimah Belanda terhadap sunat bagi perempuan.
Dari sudut pandang saya yang sedang ada di Belanda, saya melihat Banten (Indonesia) sangat kaya, tidak saja alam dan kebudayaannya, melainkan juga koruptornya. Termasuk dosen yang tidak suka atau bisa mengadakan penelitian juga sangat menarik untuk dijadikan objek penelitian. Orang-orang Malimping, Lebak, yang mengaku diberi uang masing-masing 20 ribu rupiah oleh calon gubernur atau masyarakat Banten Lama yang minta-minta kepada peziarah adalah contoh lain betapa Banten memiliki objek penelitian yang luar biasa menarik. Pada suatu kesempatan yang lain, saya bermain ke rumah seorang Belanda di Amsterdam. Dia menunjukan beberapa jilid buku yang berisi kumpulan ilmu mejik di Indonesia. Saya katakan kepadanya, di Banten banyak mejik. Dan itu bisa menjadi objek penelitian juga.
Pusat Penelitian Banten yang saya bayangkan, menerima proposal-proposal penelitian yang digaji per penelitian secara profesional. Perkembangan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti terus didiskusikan, tidak saja dengan supervisornya, melainkan dengan masyarakat secara umum. Akhirnya, hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal milik Pusat Penelitian Banten. Di lembaga ini pula dikader calon-calon peneliti dari kalangan pelajar SMA dan mahasiswa. Diajarkan bagaimana mengadakan penelitian, dibimbing hingga bagaimana penelitian tersebut ditulis dalam sebuah laporan.
Sebagaimana mendirikan organisasi lain, maka untuk mendirikan Pusat Penelitian Banten yang sangat penting dan bermanfaat bagi Banten ini dibutuhkan uang. Dari mana uangnya? Tentu bukan dari dosen dan peneliti, sebab mereka tidak punya uang. Bahkan uang mereka dari bekerja selama satu bulan jauh lebih kecil dibandingkan dengan gaji orang nganggur di Belanda. Apabila gaji dosen dua juta rupiah per bulan, gaji orang nganggur di Belanda sampai 13 juta rupiah per bulan.
Karena itu, pemerintahlah yang harus mendanai pusat penelitian ini. Jika mereka mau membiarkan uang negara dikorupsi, maka mereka harus lebih mau mendanai lembaga ini. Dana juga bisa diperoleh dari iuran atau yayasan penyandang dana luar negeri. Hanya saja saya pikir, bagian ini baru bisa dilakukan apabila Pusat Penelitian Banten sudah memiliki karya.
Perpustakaan dan Dokumentasi
Selanjutnya, bagian yang tak terpisahkan dari sebuah lembaga peneilitian adalah perpustakaan. Sayangnya, sampai saat ini perpustakaan masih belum menempati bagian terpenting di Banten secara umum, baik di rumah, lembaga pendidikan, maupun Banten sebagai provinsi. Sejauh yang saya ketahui, koleksi buku di berbagai perguruan tinggi di Banten masih jauh dari dianggap memadai. Janji gubernur Banten dan bupati Serang tentang pembangunan perpustakaan tidak diketahui kapan akan dilaksanakan.
Terkait dengan pusat penelitian Banten, maka perpustakaan lembaga penelitian yang saya maksud, yang bisa juga ditangani oleh Perpustakaan Daerah Banten, harus memiliki koleksi berbagai data tentang Banten, sebut saja koran-koran Banten dan hasil penelitian tentang Banten yang pernah dilakukan sebelumnya. Dari sana kita akan mengetahui bagian apa saja dari Banten yang sudah diteliti, yang biasanya dalam skrispi, tesis, atau disertasi bagian ini dimasukan ke dalam “kajian terdahulu” (previous studies). Atau apakah ada pandangan baru sehingga perlu lagi mengadakan penelitian pada tema yang sama. Melalui penelitian yang berkelanjutan ini kita akan memahami diri kita dengan lebih baik, kita akan mengerti perkembangan alam pikiran kita dari satu masa ke masa berikutnya. Sebagai sedikit gambaran, melalui koran-koran Banten yang terbit pada masa kolonial saya mengetahui bagaimana perjuangan intelektual Banten untuk kemajuan Banten pada masa tersebut. Mereka, di antaranya, menerbitkan koran Soerasowan (1929-1930) di Batavia. Koran ini memiliki motto Soerat Boelanan Oentoek Memperhatiken Kepentiangan Oemoem Teroetama dari Daerah dan Rajat Banten.
Sekarang perhatikan salah satu pengumaman editor koran ini: Soedara-soedara ampoenya pernjataan sympathie dengen gerakan kita ini. Kirimkan karangan jang bergoena bagi sesama bangsa, teroetama bagi peotra-poetra Banten. Kecintaan dan “nasionalisme” Banten semakin jelas dengan membaca lirik lagu Banten, Negeri Leluhurku yang dimuat koran Soerasowan edisi 4, Oktober 1929.
Saya pikir, tanpa harus menunggu pemerintah sadar, kita harus mendirikan Pusat Penelitian Banten.**
Ibnu wrote:
“Dari sudut pandang saya yang sedang ada di Belanda, saya melihat Banten (Indonesia) sangat kaya, tidak saja alam dan kebudayaannya, melainkan juga koruptornya. Termasuk dosen yang tidak suka atau bisa mengadakan penelitian juga sangat menarik untuk dijadikan objek penelitian.”
He..he…gak cuma di Banten kok.
Merata di seluruh pelosok negeri…
Payah yah!
bagaimana kabarnya ibnu, semoga sukses selalu studinya!
anda dahsyat, idenya sangat mengalir dan menyentuh nurani akademis. memang itulah kenyataan sekaligus keprihatinan saya setuju dan tertantang untuk mewujudkan ide anda soal pusat penelitian banten. ini bisa dimulai oleh kawan-kawan para dosen di banten sekaligus untuk mewujudkan perguruan tinggi di banten sebagai perguruan tinggi riset. tapi, kok sepi yang yang merespon, atau kita memang hanya segelintir orang?
Wah, good idea!
Saya setuju sekali, tapi persiapannya bagaimana?
Membentuk suatu pusat penelitian itu memang tidak hanya sekedar niat, tapi butuh UANG, perencanan yang matang, dan minat dari masyarakatnya (kesadaran akan butuhnya kita terhadap ilmu)
Tapi pendidikan di Banten, dilihat dari jumlah anak lulusan SMA yang lolos SPMB (walaupun SPMB bukan merupakan satu2nya ukuran), sekarang hampir merata untuk beberapa SMU. dahulu mungkin hanya SMU 1 Serang yang menonjol.
Menanggapi masalah Banten lama, memang itu benar2 tidak mencerminkan Islam yang bersih, ramah, dan nilai Islam yang lain. Banyak peminta2 yang kasar, masjidnya jorok, dll yang menyebalkan. Itu menggambarkan ketidakbecusan (maaf) pemerintah Banten.
Oya calon Walikota Serang kita pedangdut Lho (Syaiful Jamil)
Kalau ingin maju memang yang pertama harus diperhatikan adalah PENDIDIKAN untuk membangun intelektualitas serta pemikiran yang cemerlang bagi Banten yang berpotensi tapi belum optimal pengolahan dan pemanfaatannya.
Semangat n Sukseslah buat Mahasiswa Banten di Den Haag. Saya juga lulus S1 nanti ada keinginan meneruskan studi di Belanda (kalau ada kesempatan). Bagi2 informasi ya….
Btw, ada gak yang ikut Silat?
Wassalam
dulu saya mengira bahwa bule itu kemampuannya jauh di atas kita. anggapan seperti ini sama dengan anggapan orang belanda saat di Hindia Belanda dulu, bahwa orang Hindia Belanda otaknya gak cukup. Sederhananya kita itu manusia yang penciptaannya gak sempurna. Sekalipun memang ada sejumlah kecil yang percaya bahwa orang Hindia juga bisa pandai.
Tetapi ternyata tidak juga. Sama saja. Yang beda adalah fasilitas. dari fasilitas itulah kualitas kita berbeda dengan mereka. sejak kecil mereka sudah sudah belajar bahasa asing dengan fasilitas yang cukup. mereka juga punya perpustakaan yang sangat lengkap. mereka ingin baca apa-apa, tinggal ambil bukunya di perpustakaan.
Kita, ingin baca tidak ada buku. ingin sekolah, sekolah mahal. ingin belajar ini itu sangat terbatas. jangankan itu, menjawabpertanyaan: besok apa yang bisa kita makan saja susah.
dari sanalah kita jadi tertinggal. zaman Soekaro banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim ke luar negeri. mereka cerdas2. tetapi Soeharto jadi presiden, banyak dari mereka tidak bisa (boleh) pulang ke Indonesia.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Menulis. Tulislah apa saja yang kita tahu. Hal yang paling sederhana dan sangat penting adalah menulis biografi orangtua kita.
bicara penelitian, sekarang buktikan hasil penelitian, anda jangan jauh-jauh contoh aja seperti teman anda yang bule belanda itu, seperti sunat, qurban, aqiqah dalam prefekstif gender, adzan dll dalam prefektif hadits saja, dan jangan dibilang dosen-dosen di banten miskin penelitian, di IAIN banyak sekali orang yang memburu hasil menelitinya, dari UGM, UI, UIN, dll, yang meneliti tidak hanya ajaran normatif saja, melainkan penelitian sosial, politik, ekonomi, kebijakan pemerintah, apalagi tentang dunia hikmah. buktikan dong hasil penelitian anda?, dan Kirim di jurnal kami buat dipublikasikan.
1. Alqalam (Lemabaga Penelitian IAIN SMH Banten)
2. al Fath (Fak. Ushuluddin dan Dakwah)
3. al Ahkam (fak. Syari’ah dan ekonomi Islam)
4. Dedikasi (LPM IAIN SMH Banten)
5. Adil (Puskum HAM Fak. Syari’ah dan Ekonomi Islam)
6. Tsaqofah (Fak. Tarbiyah dan Adab)
7. Tazkia (PKIK IAIN SMH Banten)
8. Mar’ah (PSW IAIN SMH Banten)
9. Lingua (Jurnal Budaya dan Bahasa LBB IAIN SMH Banten)
10. Didaktika (Fak. Tarbiyah dan Adab)