BANTENESE STUDIES (2) : PENGARANG BANTEN
April 26, 2008 oleh ibnuadamaviciena
Oleh Ibnu Adam Aviciena
Satu hal menarik dari Indonesia saat ini ialah semakin populernya dunia menulis. Sampai skala tertentu Banten mendapat pengaruh baik dari keadaan ini. Lalu pertanyaannya, bagaimanakan tradisi menulis di Banten dan siapa sajakah penulis Banten itu? Tulisan ini akan menjawab dua pertanyaan tersebut.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya saya mendefinisikan apa itu yang disebut penulis dan penulis Banten. Yang saya maksud dengan penulis di sini adalah orang yang menulis untuk publik, baik tulisan itu dimuat di media massa atau dibukukan. Jadi, orang yang menulis surat, makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi, dalam tulisan ini tidak dimasukan ke dalam kategori penulis yang saya maksud. Lalu penulis Banten adalah penulis yang lahir di Banten atau di luar Banten tetapi bekerja di Banten.
Berkenaan dengan tradisi tulis di Banten agak susah menentukan kapan tradisi ini dimulai dan siapa yang memulai. Tetapi, kiranya baik bagi kita untuk memperhatikan pendapat doktor dan profesor pertama di Indonesia asal Banten, Hoesein Djajadiningrat. Dia mengatakan dalam Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten bahwa Babad Banten adalah kronik paling tua di Banten, berasal dari masa Sultan Ageng Tirtayasa.
Apabila benar demikian, maka pada masa Sultan Ageng Tirtayasa kita menemukan juga seorang sufi-penulis Banten yang sangat populer. Dia Syakih Yusuf, menantu Sultan Ageng Tirtayasa dari Makassar yang juga anggota dewa penasihat kesultanan. Dia lahir di Makassar, namun demikain kita orang Banten bisa mengklaim dia sebagai Banten, sebagaimana orang Srilanka dan Afrika Selatan melakukan hal yang sama. Pengakuan tersebut didasarkan kepada bahwa dia menantu sultan dan menetap di Banten sepanjang kira-kira 18 tahun, sebelum akhirnya dibuang ke Srilanka dan Afrika Selatan. Dari tangan dia lahir paling tidak 25 karya yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab dan bertemas sufisme.
Halwany Michrob dkk, dalam Sejarah Banten menyebutkan bahwa Sultan Abdul Kadir adalah seorang penulis. Dia biasa menulis buku-buku agama dan buku-buku tersebut dibagikan kepada penduduk secara cuma-cuma. Salah satu buku yang ditulisnya berjudul Insan Kamil yang kemudian buku tersebut diambil oleh Snouck Hurgronje.
Muhammad B. Umar B. ‘Arabi Al-Djawi al-Nawawi adalah penulis yang tidak diragukan. Dia adalah satu dari enam anak dari pasangan Umar dan Jubaidah, Serang pada 1813. Sejak kecil dia sudah dimasukan ke sebuah pesantren di Jawa Timur dan juga di Cikampek oleh bapaknya. Tersebut bahwa setelah bapaknya meninggal, pesantren bapaknya diurus oleh dia yang pada saat itu berumur 15 tahun. Sejak usia muda pula dia meninggalkan Banten menuju Arab, dididik oleh ulama-ulama besar dari Arab, Syiaria, dan Mesir. Akibatnya, dia menjadi ulama dan penulis di sana, meskipun hampir seluruh bukunya hanya berisi komentar-komentar dia atas buku-buku orang lain.
Bila masa hidupnya dihitung, maka sebagian besar hidupnya tidak di Banten. Namun demikian, dibuku-buku yang ia tulis, ia selalu menyebut bahwa dirinya berasal dari Banten. KH Khalil Madura, KH Hasyim As’ari Jombang, KH Raden Asnawi Kudus, and KH Tubagus Mohammad Asnawi Caringin adalah sebagian kecil dari jumlah muridnya. Snouck Hurgronje dalam disertasinya menjelaskan masalah kampung jawa yang ada di Arab. Tentu nama Syaikh Nawawi tidak luput untuk disebutkan di halaman disertasi tersebut.
Keturunan Bupati Serang Raden Bagoes Djajawinata, adalah orang-orang yang sangat penting dalam tradisi tulis di Banten, mengingat mereka pada zaman kolonial mendapatkan pendidikan modern. Keturunan yang saya maksud adalah Achmad, Moehammad, Hoesein, Chadidjah, dan Soelami. Sejak ada di Menes Pandeglang mereka sudah mendapatkan pendidikan bahasa Belanda. Beranjak dewasa yang laki-laki masuk sekolah ke OSVIA Serang dan HBS Batavia, sementara yang perempuan masih belum didapat keterangan.
Achmad, lahir 1877, bertemu dengan Snouck Hurgronje saat ada di Cilegon. Merasa terkesan dengannya, Snouck Hurgronje mendidiknya di Batavia. Setiap hari Minggu Achmad diwajibkan datang ke rumahnya di Gang Sentiong, Batavia. Namun sayang, selepas HBS, satu hari sebelum berangkat ke Belanda, ayahnya meninggal terkena serangan jantung. Karena itu dia batal berangkat.
Sejak belajar bahasa Belanda di Menes, Hoesein oleh guru bahasa Belandanya sudah diketahui sebagai anak cerdas. Ia meminta kepada orangtuanya agar Hoesein di sekolahkan di Serang atau di Batavia. Karena kekurangan biaya, ia sekolah di Osvia Serang, baru kemudian ke HBS di Batavia. Lagi, gagal menjadikan Achmad sebagai seorang ilmuwan, Snouck Hurgronje mengambil Hoesein. Pada saat Hoesen kelas tiga HBS, Snouck Hurgronje mengirim surat kepada Achmad bahwa adiknya itu akan dipersiapkan untuk kuliah di Leiden, Belanda. Untuk itu, Hoesein belajar bahasa Latin dan Yunani. Perlu disebutkan, bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis, pada saat itu biasa dikuasai oleh pelajar HBS. Selanjutnya dia lulus sebagai doktor di bawah bimbingan Snouck Hurgronje dengan hasil yang sangat memuaskan.
Achmad atau saat di HBS bernama Willem van Banten sebagai bupati biasa menulis artikel di media massa, sebut saja di majalah Djawa dan Koloniale Studien. Akhirnya, ia menuliskan sejarah hidupnya dalam Herinering van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat atau Memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat untuk versi terjemahannya. Melalui buku ini tergambar dengan jelas bagaimana gambaran Banten pada masa kolonial: pembangunan jalan Anyer-Panarukan, kerja rodi di Ujung Kulon, gunung Krakatu meletus, dan seterusnya.
Masih pada buku yang sama, ia mengatakan bahwa dalam keluarganya, dan bisa diduga terjadi di dalam keluarga nenek moyangnya juga, anggota keluarga paling tua biasa menuliskan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalam keluarga tersebut, misal kelahiran anak, sunatan, kawinan, meninggal, naik jabatan, pergi jauh, dan seterusnya. Catatan keluarga ini tidak ditulis secara khusus di sebuah buku, melainkan di halaman-halaman tertentu buku primbon atau buku lain, dan ini sifatnya rahasia.
Pada saat menjadi bupati, Achmad menjelaskan bahwa orang-orang Baduy saat sowan biasa membacakan puisi. Di kabupaten tempat dia bekerja terdapat perpustakaan yang mana pegawai biasa berkumpul di sana. Di ruangan itu mereka membacakan puisi-puisi.
Saya tidak punya cukup data untuk menejaslan lebih gamblang mengenai keluarga menak ini. Namun demikian, secara umum bahwa anak-anak Raden Bagoes Djajawinata mendapatkan pendidikan modern pada masanya. Sedikit informasi, misalkan Loekman Djajadiningrat, adik dari Achmad dan Hoesein menulis buku From Illiteracy to University. Buku ini menjelaskan tentang pola pendidikan di Hindia Belanda bandingannya dengan pola pendidikan di Belanda. Untuk memperkaya studi tentang Banten, kita memang perlu mewawancarai keturunan Djajadiningrat. Mereka tergabung dalam Paguyuban Keturunan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat.
Selanjutnya, saya menduga penulis diari Pengalamanku Di Daerah Pertempuran Malang Selatan yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1974 adalah salah seorang anak dari Achamd Djajadiningrat, yang bernama lengkap Adjeng Roswitha Tanis Djajadiningrat. Dugaan ini didasarkan kepada nama yang sangat mirip, nama keluarga Djajadiningrat, dan beberapa bagian dari buku itu menguatkan dugaan itu. Sebut saja misalkan Roswita dimata-matai pejuang Indonesia saat ada di Malang karena nama keluarga Roswita adalah Djajadiningrat.
Yang kemudian diketahui, pemata-mata melakukan kegiatannya karena mereka menganggap bahwa keluarga besar Djajadiningrat adalah tangan kanan Belanda. Ini bisa dimengerti mengingat, pertama, struktur masyarakat berupa kelompok ningrat/menak atau priyai di Jawa, adalah kelompok yang dengan sengaja diciptakan oleh Belanda untuk kepentingan penjajahannya. Kedua, sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan ningrat, Achmad cukup Belanda-sentris. Ini tampak jelas misalkan pada pandangan dia mengenai Geger Cilegon 1888 dan konsep kenegaraan Indonesia sebagai negeara fedaral dari Belanda.
Pada periode selanjutnya, kita melihat Halwany Michrob, Uka Tjandrasasmita, dan Hasan Muarif Ambary memfokuskan kajiannya pada lokal Banten, terutama bidang sejarah dan arkeologi Banten. Sebagian dari buku Halwany Michrob misalkan Catatan Masalalu Banten (1993), Lebak Sibedug dan Arca Domas di Banten Selatan : Studi Banding dalam Konteks Kesamaan Akar Budaya Nusantara (1993), Sejarah perkembangan Arsitektur Kota Islam Banten: Suatu Kajian Arsitektural Kota Lama Banten Menjelang Abad XVI Sampai dengan Abad XX (1993), dan Difusi kabudayaan Sunda Dina Hadirna Islam Ditalungtik Tina Sumber Naskah Sunda Kuna : Panalungtikan Arkeo-Filologies (1988).
Penting disebut, dari penghamilan yang dilakukan oleh Gola Gong dan Toto ST Radik terhadap Banten sejak 2000-an, kini tumbuh pada usia remaja penulis-penulis Banten, seperti Qizin La Aziva, Adkhinli MS, Endang Rukmana, Ibnu AA, dan lain-lain. Meski tidak terlalu banyak, paling tidak kedunya sudah berhasil memperpanjang silsilah penulis Banten dari masa Syaikh Yusuf al-Maqassari. Tinggal anak-anak yang lahir itu dirawat, diingatkan, dan disuntik apabila semangatnya mengendur. Hingga kemudian mereka bisa tumbuh besar dan mengalahkan kehebatan bapak-bapaknya.
Di luar lingkungan itu, meski banyak di antara mereka yang kurang subur, Banten punya Wan Anwar, Abdul Malik, Aniz Fauzi, Aris Kurniawan, Ilzamudin Ma’mur, Agus Sutisna, Lukman Hakim, dan lain-lain. Dari gambaran di atas, cukup jelas bagaimana peta dan silsilah penulis Banten.**
Cepat pulang kampung…. Pandeglang lagi gawat…
saya ini sudah tidak mengerti dengan Indonesia. Bingung. Dulu mereka ingin jadi pegawai pemerintahan. Sudah jadi, mereka ambili uang2 negera.
Andai saya punya mata batin, mungkin saya melihat wajah mereka sebagai wajah tikus dan babi.