Belajar, Kangen Indonesia, dan Mimpi Membangun Negeri
Oleh Ibnu Adam Aviciena
Ada berapa sih mahasiswa Indonesia di Belanda saat ini? Tidak ada yang bisa jawab, termasuk pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PII) dari masing-masing kota. KBRI tidak punya datang lengkap karena tidak semua mahasiswa Indonesia di Belanda melaporkan dirinya ke mereka. PII tidak tahu karena cukup sulit mendata mahasiswa. Pernah PPI Leiden berusaha mendata mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Leiden dengan cara mengirimkan formulir melalui milis, namun tidak berhasil.
Lalu, ada berapa mahasiswa Banten di Belanda? Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan di atas, susah dijawabnya. Namun demikian paling tidak di Universitas Leiden ada empat orang yang seluruhnya kuliah S2 kajian Islam (Islamic Studies). Mereka adalah saya, Saraswati, Ayatullah Khumaeni, dan Yanuar Pribadi. Saya dan Yanuar Pribadi tiba di Belanda 12 Februari 2007, sedangankan Saraswati dan Ayatullah tiba pada 5 September 2007. Kenapa mereka kuliah di Universitas Leiden, apa kegiatan mereka selain kuliah, bagaimana mengobati perasaan kangen ke Indonesia, dan bagaimana mimpi mereka sekembalinya dari Belanda? Berikut penuturan mereka.
Kuliah di Belanda
Ada alasan tersendiri kenapa kami kuliah di Universitas Leiden. Tercatat universitas ini cukup meyakinkan untuk dijadikan sebagai tempat mencari ilmu. Dari umurnya universitas ini sudah tua, dibangun tahun 1575. THES-QS World University Rangkings pada 2007 memasukan Universitas Leiden sebagai universitas terbaik ke-84 di dunia. Selain, hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa universitas ini cukup banyak dijadikan rujukan. Namun yang lebih penting, kami kuliah di sini gratis sekaligus digaji.
Ayatullah secara khusus merasa teryakinkan dengan kemampuan akademis dosen IAIN Banten Mufti Ali yang menempuh S2 dan S3 di universitas tersebut. “Kemampuannya secara akademik semakin meyakinkan saya akan kualitas Leiden sehingga membuat saya tertarik untuk ambil program MA di Leiden.” Saraswati bahkan mengaku kuliah di Leiden lebih dari apa yang diharapkannya mengingat Universitas ini memiliki rangking, penghargaan, dan jaringan yang sangat luas.
Sebagai dosen bahasa Inggris di IAIN Banten, Ayat berharap dia bisa lebih banyak mempraktekan bahasa Inggrisnya, sekalipun di Belanda bahasa bangsanya bukan bahasa Inggris. Tetapi paling tidak, dengan banyaknya mahasiswa internasional ia bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan mahasiswa dari berbagai negara. Apa yang dikemukakan Ayatullah bisa difahami karena bagi orang Belanda bahasa Inggris itu seperti bahasa Jawa bagi orang Sunda di Banten dan sebaliknya. Hampir semua orang di Belanda bisa bahasa Inggris, baik anak-anak kecil maupun para pekerja bangunan, misalkan.
Selain itu, di Universitas Leiden, sebagaimana di universitas-universitas lain di Eropa pada umumnya, mahasiswa akan ditangani oleh ahlinya. Artinya tidak seperti di kita di mana lulusan S1 mengajar mahasiswa S1. Pada umumnya, hubungan dosen dengan mahasiswa sangat dekat seperti sesama teman. Selain orang-orang Belanda dikenal sangat ramah, akan sulit bagi seseorang untuk membedakan mana mahasiswa, dosen, profesor, dan penjaga kantin. Dengan pakaian yang kadang kusut dan kucel, dosen berbaur dengan mahasiswa.
Di Belanda, sebagaimana diungkapkan oleh Saras, sistem pendidikan berbeda dengan di Indonesia yang cenderung mendengarkan dan mencatat. Sementara di universitas-universitas maju, mahasiswa dibiasakan untuk banyak membaca dan menulis sebagai tugas kuliah. “Menulis paper, reading notes, review buku, dan lain-lain. Ini lebih merangsang mahasiswa menjadi lebih kritis,” katanya. Sejumlah dosen bahkan “memaksa” setiap mahasiswa di kelasnya agar bicara dengan menanyakan pertanyaan seperti berikut: Apa yang sudah Anda pelajari dari buku ini?’
Masyarakat Belanda
Datang dari Indonesia ke Belanda memang akan bikin terheran-heran. Apabila di Banten kita bisa melihat sampah di mana-mana, di Belanda kita akan susah mencari sampah, kecuali di baknya. Apa-apa yang ada di lingkungan di Belanda ada fungsinya, yang tidak ada fungsinya akan segera dibuang. Orang-orang Belanda juga sangat rajin membaca. Apabila pernah masuk ke rumah mereka, maka akan diketahui betapa banyak buku mereka koleksi.
Ayatullah memiliki kesan tersendiri tentang hal tersebut. “Bukan hal yang asing lagi kalau kita lihat di perpustakaan ada nenek-nenek atau kakek-kakek yang masih sibuk baca buku; bahkan kita lihat di kereta, penumpangnya banyak yang sambil baca buku,” katanya. Sementara Saraswati mengatakan bahwa orang-orang Belanda sangat taat kepada aturan. Ini bisa terlihat misalkan di jalan raya. Pada saat lampu lalu-lintas merah menyala untuk kendaraan, maka hampir bisa dipastikan mobil tidak akan jalan sekalipun di jalan raya itu tidak ada kendaraan lain.
Namun demikian, tidak semua apa yang di Belanda bagus dan sesuai untuk masyarakat kita. Selain “menikah” sesama jenis dilegalkan, orang-orang Belanda sangat individualis. Akan sangat susah bagi kita untuk bisa sekedar berbincang-bincang dengan penumpang kereta yang duduknya bersebelahan dengan kita. Seorang Palestina yang sudah tinggal lebih dari 20 tahun di Belanda mengaku hampir tidak punya teman orang Belanda. Belum lama ini di majalah Mare, majalah kampus Universitas Leiden, ada sejenis surat pembaca dari seorang mahasiswa Universitas Leiden yang pernah kuliah di Amerika. Dia mengatakan sangat susah untuk menjalin pergaulan dengan mahasiswa Belanda.
Sedihnya, dari persfektif kita, anak-anak Belanda pada umur 17 tahun biasanya sudah tidak tinggal bersama orangtuanya lagi. Seorang ibu mengatakan, pada saat anak-anak Belanda menikah, orangtua adalah tamu di pernikahan tersebut. Individualisme orang Belanda tampak pada dengan hidupnya orang tua tanpa anak-anaknya. Kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah jompo banyak ditemui di toko berbelanja untuk kehidupan mereka sehari-hari. “Mungkin mereka merasa baik-baik saja, tapi saya kasihan,” ungkap Saraswati.
Kangen Indonesia
Keadaan Belanda yang demikian membuat mahasiswa Indonesia, tidak saja yang dari Banten, merasa sangat kangen kepada kehidupan di Indonesia. Lingkungan Belanda yang individualis sedikit banyak mempengarhui mahasiswa Indonesia. Akibatnya, mahasiswa yang berbeda jurusan tidak terlalu sering bisa bertemu. Masing-masing sibuk. Paling-paling bertemu di masjid, jalan raya, toko, atau di pertemuan mahasiswa.
Kehangatan hidup bersama keluarga, pergaulan bersama teman-teman, makanan, warteg, nongkrong, adalah contoh-contoh dari yang sering dikangangenkan. Belanda memang tidak memiliki makanan yang cukup enak. Yang mereka miliki, barangkali, hanya roti dan keju. Tidak heran kemudian di Belanda banyak toko makanan dari berbagai negara. Tidak sulit juga bagi orang Indonesia untuk berbelanja sambal, kecap, sayuran, ikan teri, terasi, mie instant, tahu, tempe, dan seterusnya.
“Pokoknya, segala hal yang berkenaan dengan Indonesia bikin saya pengen pulang secepatnya,” kata Ayatullah. Untuk mengobati rasa kangen itu ia menelfon teman dan keluarganya sesering mungkin. Bila itu tidak juga bisa mengobati, ia biasanya jalan-jalan ke beberapa kota di Belanda, membaca, solat, atau mengaji. Saras yang meninggalkan suami mengaku usaha seperti mengirim pesan pendek, telefon, kumpul-kumpul dengan mahasiswa Indonesia kurang mempan. “Wong yang dikangenin masih di Indonesia,” ujarnya.
Bagi yang sudah menikah, kangen kepada pasangan merupakan siksaan tersendiri. Cukup banyak mahasiswa Indonesia yang meninggalkan pasangannya saat mereka baru sebulan menikah. Beberapa bulan tinggal di Belanda kemudian isterinya melahirkan. Seorang teman bahkan tidak sempat melihat bagaimana isterinya hamil dan melahirkan. Ada juga, karena ia tidak melihat bapaknya hingga cukup besar, dia selalu menarik-narik ibunya saat bapaknya mendekati ibunya.
KITLV, Indonesia di Belanda
Selain itu ada satu hal lain yang sering dilakukan mahasiswa Indonesia, termasuk mahasiswa dari Banten, untuk mengobari perasaan kangen, yaitu pergi ke perpustakaan KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies). KITLV adalah sebuah lembaga penelitian yang didirikan pada 1851 yang memfokuskan penelitian terutama di bidang antropologi, linguistik, dan ilmu-ilmu sosial di bekas negara-negara jajahan Belanda seperti Indonesia, Suriname, Netherlands Antilles, dan Aruba.
Di perpustakaan KITLV mahasiswa Indonesia bisa membaca koran-koran Indonesia seperti Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Indo.Pos, Warta Kota, dan lain-lain. Jutaan buku berbahasa Indonesia tersedia di sini. Tidak lupa buku-buku yang ditulis oleh orang Banten seperti Gola Gong, Agus Sutisna, Ilzamudin Makmur, Anis Fauzi, dan lain-lain. Di perpustakaan ini terdapat 496 buku dan artikel tentang Banten. Buku-buku dan artikel-artikel tersebut, bila mau, bisa difotokopi.
Saras mengatakan bagi mahasiswa Indonesia datang ke perpustakaan ini hampir sebuah keharusan. Ia biasa datang ke tempat ini biasa dua kali seminggu, sedangkan Ayat hampir setiap hari. Membaca buku di ruang baca dan meminjam buku adalah apa yang mereka biasa kerjakan, sebagaimana pengunjung lain. Saras mengatakan, datang ke perpustakaan KITLV adalah cara untuk meng-update berita terkini dari kampung halaman. Secara khusus Ayat banyak meminjam buku-buku tentang Banten, apalagi dia akan menulis tesis tentang praktek mejik di Banten.
“KITLV adalah miniatur perpus Indonesia. Tanpa penjaga perpus, saya merasa sedang di perpus Depok/Tangerang gitu…,” jelas Saras. “Dan ada motif lain yang agak nggak nyambung, supaya ketemu teman-teman Indonesia. KITLV adalah salah satu tempat ajang gaul mahasiswa Indonesia di Leiden. McD aja kalah!”
Mimpi Membangun Negeri
Lalu apa rencana mereka setelah lulus? “Tentunya saya berharap ilmu saya bisa manfaat buat mahasiswa IAIN dan Banten pada khususnya, dan bangsa dan agama pada umumnya. Dan saya bisa berkarya dan mampu menciptkan, paling tidak menulis buku, yang bisa dibaca untuk kemajuan pengetahuan,” terang Ayatullah.
Ungkapan serupa disampaikan Saraswati yang selama ini dosen di Universitas Trisakti dan berdomisili di Tangerang. Ia berharap bisa membangun kampung halaman dan mengajar lagi dengan lebih percaya diri. “Bikin perpus pribadi yang bisa dibaca teman-teman dan orang-orang serta menlanjutkan kuliah S3 pada suatu hari nanti,” katanya.
Sebagai pendidik Ayat merasa posisinya strategis. Ia mengaku akan membagikan ilmu yang dia peroleh selama kuliah di Leiden, memotivasi mahasiswa supaya bisa belajar lebih giat, lebih creatif, dan kritis. “Karena cuma dengan cara meningkatkan kualitas keilmuan mereka yang bisa membuat SDM kita maju dan mau membenahi diri,” terang Ayat.
Ia yakin apabila mahasiswa sudah punya minat belajar tinggi akan dengan sendirinya mereka akan mencari bertambah wawasan. Dengan demikian mereka akan berpikir untuk mencari solusi bagaimana agar diri mereka bisa mengejar ketinggalan.
Mengubah mindset generasi mudanya dengan mengajar untuk tidak pasif adalah rencana Saras. Ia berharap mahasiswanya akan lebih rajin membaca dan menulis. “Dan nggak merasa inferior, terutama ama bule. Bule tuh sama aja ama kita,man!”
Hi……
Punya Informasi tentang perekonomian dan situasi politik Belanda yang lebih lengkap gak?
Boleh dong minta datanya…
^_^
Dank
ASSALAMUA’ALAIKUM. SALAM KENAL, TOLONG MINTA NO HP NYA, SAYA MAU NANYA LEBIH LANJUT TENTANG CARA MASUK UNTUK MELANJUTKN S2 DI LEIDEN.MAKASIH
Asslm. Minta alamat emailnya ya, sy mau nanya2 tentang studi di Belanda. Makasih.
Wass
Salam hormat,
Saya suhardi, tinggal di BSD Tangerang, ada rencana ikut pasar malam Tong-tong pada Mey 09, berjualan kerajinan.
Mohon info dari Bapak/ Ibu dimana saya bisa mendapat penginapan yang termurah? dan mohon saran2 untuk hidup dgn biaya musah.
Terimakasih sebelumnya.
Jawaban:
Saya mohon maaf sudah lama tidak membuka wordpress saya. Pada umumnya biaya sewa kamar di Belanda sekitar 250-500 euro. Tentu saja ini tergantung banyak hal. Sewa untuk pelajar Belanda biasanya sangat murah, dibandingkan dengan mahasiswa asing. Mahasiswa asing sekitar 350 euro. Bisa jadi pula bila bapak bertemu dengan orang Indonesia yang tinggal di sana dan menyewakan kamar untuk satu bulan, katakanlah demikian, biayanya bisa lebih murah.
Sementara untuk hidup yang murah tentu saja harus masak sendiri. Bapak bisa membeli nasi, ikan, sayuran, atau mi di toko-toko Cina.
Salam
Ibnu
Silakan kirimkan pertanyaan ke: ibnuaviciena@yahoo.com
Wah…saya mendapatkan info yang sangat bermanfaat di sini Mas..
Salam hangat Bocahbancar….