Oleh Ibnu Adam Aviciena
Nasibku di awal tahun baru ini betul-betul malang. Semua file yang ada di laptopku hilang karena ia hang dan aku harus menginstal ulang. Awal masalahnya memang bagaimana? Begini kawan:
Kamukan tahu sendiri aku ini tidak bisa hanya mengerjakan satu pekerjaan saja. Aku harus mengerjakan tiga empat pekerjaan bergantian dalam waktu dekat. Misal begini: aku harus menulis makalah kuliah A dan B. Aku tidak bisa hanya mengerjakan makalah A sampai selesai baru ganti ke makalah B. Aku harus mengetik makalah A, dapat satu halaman aku ganti lagi ke makalah yang lain. Dapat satu halaman, aku buka internet dulu, kemudian aku ganti baca buku, baca cerita pendek, dan seterusnya. Nah, makalahku yang satu sudah 10 halaman dan yang satunya baru 3 halaman. Sengaja dari beberapa minggu lalu aku segera mengerjakan, dengan harapan akan ada waktu longgar buat aku mengerjakan hal lain. Misalkan, jalan-jalan. Yang terjadi, kamarin malam aku ngotak-ngatik ini itu di laptopku. Aku membuka lebih dari sebelas program sekaligus. Lalu sedikit hang dan ikon-ikon di wallpaper muncul dan hilang. Dengan begitu aku tidak bisa membuka program apapun. Penyelesainya satu: diinstal ulang.
Masalahnya bukan di instalasi, melainkan aku sudah lebih dari dua bulan tidak memindahkan data-data yang ada di laptop. “Berapa file yang hilang?” tanya Saras temanku. Dengan sedih aku jawab, “Ratusan…” Foto-fotoku yang aku ambil dari Maastricht hilang semua. Foto-foto saat salju turun juga gilang. Tentu saja foto bukan masalah besar. Aku bisa mengulangi lagi, lain kali. File-file lain tentu saja penting. Tetapi selagi masih bisa aku cari, masalah itu bisa aku selesaikan. Masalah besarnya adalah makalahku! Memang sih cuma 10 dan 3 halaman. Tetapi itu adalah hasil kerja kerasku. Sengaja aku memulai dari dulu-dulu agar aku tidak kepepet, mengingat akhir Januari harus aku serahkan. Itu juga aku lakukan karena sering ada kegiatan tak terduga.
File-fileku sudah hilang. File-file lama memang masih ada di external harddisk. Tetapi file-file baru, entah apa saja, sudah hilang dimakan kesialan.
Aku kira masalah ini terjadi karena aku tidak menghentikan downloading saat ada pemberitahuan dari Avast bahwa ada virus masuk. Aku merasa oke-oke saja, sebab Avast sangat ampuh. Sampai berbulan-bulan komputerku aman dijaga Avast. Sekarang Avast kecolongan. Bukan Avast yang kecolongan! Aku!
Herannya aku tidak marah. Kesal? Tidak juga. Sedih? Mmm…. Agak. Perasaanku yang tepat adalah sayang. Sayang saja aku sudah bekerja bercapek-capek, hasilnya hilang begitu saja. Sayang saja aku harus mengulang lagi, dan itu artinya aku harus menyediakan waktu lagi, harus makan lagi, harus begadang lagi. Artinya apa? Dari file yang hilang itu efeknya ke mana-mana. Ke waktu, ke stok makanan, ke agenda yang harus ditata lagi, dan seterusnya.
Kejadian komputer macet dan selanjutnya file-filenya hilang ini bukan yang pertama. Selagi aku tinggal di Smaradgdlaan juga pernah dua atau tiga kali. Dan musibah semacam ini tidak saja menimpa aku seorang, melainkan teman-temanku juga. Tadi sore aku berangkat ke Smaragdlaan lagi menemui teman-temanku yang tinggal di sana. Tujuan utamanya sih aku mencari CD Windows punya temanku, Mas Udin. Punyaku huruf-huruf kuncinya tidak pas. Syukur, setelah satu jam lewat komputerku bisa aku pakai lagi.
Tadi sore itu teman-temanku, Sugi di antaranya, menyarankan aku untuk menyimpan file-file di e-mail. Katanya mereka biasa begitu. Masalahnya Komandan, masalah fileku yang hilang sudah terjadi! Saran kalian tidak bisa menyelamatkan file-fileku yang sudah mati, sudah dikubur oleh kesialan yang menimpaku.
Makalahku tentu saja tidak keren, tak ada yang baru. Aku cuma menyusun ulang apa yang sudah ditulis orang. Aku tidak menemukan sesuatu yang membuat dunia akan berubah lewat makalahku. Tetapi Komandan, di makalah itu ada darahku! Kehilangan makalah berbarti kehilangan sebagian darahku. Artinya pula aku kehilangan sebagian diriku. Dulu, tahun 2003 atau 2004, aku mengetik novel di rental komputer. Aku tidak punya komputer. Aku sudah dapat menghasilkan 50 halaman satu spasi novel. Novel itu sangat mungkin tidak menarik. Masalahnya di setiap baris novelku itu ada tarikan nafasku.
Perasaan sayang, mungkin juga sesak karena tulisan hilang, bukan cuma menimpa aku seorang. Teman-temanku yang lain juga pernah mengalami hal demikian. Dan rasanyapun sama: kurang lebih sesak nafaslah. Pramoedya, penulis yang tetraloginya sangat aku kagumi, juga kehilangan tulisannya. Aku tidak tahu bagaimana dia merasa marahnya kepada militer yang mengambil dan menghilangkan novel-novelnya. Kalau aku, makalahku hilang karena aku. Di dalam novel itu ada ribuan tarikan nafasnya. Aku juga tidak bisa membayangkan orangtua yang kehilangan anaknya. Anak juga karya dari sekian tarikan nafas. Dijaga sembilan bulan di rahim, sudah lahir disusui, dikasih makan, di sayang-sayang. Eh, tidak terbayang perasaan orang tahu saat tahu anaknya jadi bejat, atau jadi anak baik tetapi ditampar orang lain.
Aku ngomong panjang lebar begini, sebetulnya hanya sebuah cara agar emosiku kembali stabil setelah mengalami nasib buruk ini. Dengan menyalurkannya melalui diari ini, aku bisa memulai menulis makalahku. Hilang makalah, kembali lagi menulis. Waktu masih ada. Hilang foto-foto, aku bisa kembali memotretnya. Aku cuma kehilangan foto. Temanku Faik kehilangan kamera. Temanku Fathan kameranya jatuh di jalan raya dan rusak. Jadi, sebetulnya setiap orang punya masalah. Anggap saja aku naik sepeda punya Lina sampai ngos-ngosan ke Smaragdlaan sebagai olahraga, anggap saja aku menulis makalah yang hilang itu sebagai pemanasan, anggap saja semuanya sebagai proses menuju kesempurnaan.
Leiden, 2 January 2008, 11:28PM
kutinggalkan jejak di sini ya, nu…berkunjunglah ke bilik sederhanaku…:-)
Mending kamu langsung garap lagi makalahmu… daripada ngeblog. Dulu waktu ngegarap ‘Gerimis terakhir’ aku kehilangan naskah 30 halaman… dan harus ngulang. Sekarang aku sedang ngegarap ‘Jejak Fajar’ naskahku hilang lagi. huhuhuhu….