Oleh Ibnu Adam Aviciena
Aku baru saja selesai ngesyut langit Leiden. Ada apa memang? (Ada-ada saja) Ada kembang api dan petasan! Sekarangpun masih terdengar ledakan-ledakannya. Sejak tadi sore orang sudah membakari petasan. Tadi sore sih belum ngeuh tidak biasanya orang meledakan petasan. Sudah malam baru inget bahwa orang meledak-ledakan petasan karena malam ini malam terakhir tahun 2007, besok pagi sudah tahun baru 2008. Jadi, sejenis ucapan selamat tinggal 2007 dan selamat datang 2008.
Teman serumahku mengajak aku keluar untuk melihat bagaimana orang Belanda merayakan tahun baru. Aku bilang aku lagi malas ke luar. Mereka sempat ragu untuk keluar sebab sampai pukul 11 malam belum terdengar keramaian. Tetapi pada akhirnya mereka memutuskan pergi. Aku sendiri memilih tinggal di rumah.
Sekian lama kemudian terdengar suara ledakan-ledakan, tidak saja dari jauh melainkan juga di depan rumah. Kebetulan aku sedang mengetik. Begitu aku lihat jam di komputer, jam tepat pukul 12 malam. Karena aku duduk dekat gorden, langsung saja aku buka. Di luar cahya melesat-lesat diiringi ledakan luar biasa dan terus menerus. Aku menyaksikan langit yang meriah. Karena ledakan terus menerus dan langit semakin cantik, aku segera saja berlari naik tangga untuk mengambil handycamku di kamar. Dari kamarku di lantai dua: dapur naik tangga, kamar-kamar temanku, naik tangga lagi, baru kamarku. Dari sana aku merekam langit Leiden yang warna-warni dan ramai sekaligus bau petasan.
Lama aku membiarkan kaset merekam suara berisik dan langit gelap karena asap hingga kasetku habis. Saat aku pakai itu sisanya sekitar 20 menit. Tadinya aku mau memutuskan untuk mengganti dengan kaset yang ada di meja. Aku rasa video yang ada di dalam kaset itu belum aku transfer. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan bagian awal kaset tadi, kaset yang sudah ada di dalam handycam. Sudah selesai merekam sisa keramain, aku cek ujungnya. Ternyata kaset itu adalah kaset yang merekam hujan salju dan aku, lagi, belum memindahkan video itu ke hardiskku. Aku kehilangan sebagian video saljuku.
Saat aku merekam udara Leiden yang berisik dan bau, aku perlahan merasa mundur ke masa lalu, ke saat aku masih Tsanawiyah bulan Ramadhan, sekitar tahun 1996. Di kampungku ramai sekalai. Kembang api mekar di langit, sementara udara meledak-ledak. Mereka, orang-orang di kampungku, membeli petasan dan kembang api dariku. Tetapi tentu saja ramainya saat itu tidak sebanding dengan di sini saat ini.
Tentang petasan, kakaku dulu penjual petasan. Dia biasa beli dari Parung Bogor. Keuntunganya dia belikan sepeda. Saat itu aku masih SD. Lalu aku juga berkali-kali pada musim Ramadan jualan petasan. Pada satu Ramadan satu kardus petasanku diambil polisi. Yang kecewa, aku punya teman dan temanku punya teman anak polisi. Kami bermain dan anak polisi main petasan bersamaku.
Bau petasan dan warna-warninya langit Leiden membangkitkan ingatanku akan hal itu. Aku merasa bahwa malam ini adalah malam lebaran. Aku merasa orang-orang yang sedang membakari petasan dan kembang api di bawah adalah temanku. Aku merasa perpaduan jalan Koningstraat dan jalan Prins Hendrikstraat adalah salah satu lorong di kampungku, dalam ingatanku.
Mereka, malam ini, membakari kembang api untuk menandai perpindahan waktu. Dosenku beberapa minggu yang lalu bilang, aku lupa kalimat dianya, bahwa waktu itu tidak jelas (entah apalah bahasa yang tepat). Dan yang dilakukan orang-orang adalah menandai perubahannya. Orang naik pangkat dirayakan, ulangtahun diperingati, mati “dipestakan”. Dalam hal ini, ramai-ramai membakari kembang api adalah ritual sebagai penanda perpindahan waktu.
Leiden, 1 Januari 2008; 1:34 am