Oleh Ibnu Adam Aviciena
Hidupku betul-betul kacau. Malam kemarin aku coba tidur saat jam menunjukan pukul 3 dini hari. Aku harap dengan tidur lebih awal aku akan bangun lebih pagi. Betul memang pukul 7 aku bangun saat weker bunyi. Namun weker itu nasibnya buruk. Sekalinya bunyi langsung aku matikan. Dia tewas dan tidak bunyi lagi hingga siang, hingga aku sadar bahwa begitu aku bangun untuk kedua kalinya jam sudah menunjukan pukul dua siang. Aku melangkah menuju jendela. Hari sudah redup. Sebentar lagi malam datang. Dan betul saja, jam empat lewat beberapa menit hari mulai gelap dan gelap betul jam lima.
Sambil masak jam dua lewat beberapa menit, aku melamunkan hidupku yang seperti kelelawar. Malam melek, siang tidur. Hari yang begini pendek, yang siang mulai jam sembilan dan malam mulai jam lima, membuat aku terbingung-bingung. Rasanya hidupku pendek sekali. Rasanya kemarin hanya beberapa jam yang lalu saja, sekarang sudah hari ini. Bangun jam dua siang, jam lima gelap lagi, sekarang jam tujuh aku sudah mengantuk lagi. Parahnya, hari ini aku betul-betul tidak beruntung. Hampir tidak ada yang aku kerjakan sama sekali.
Jadi siang ini sama dengan beberapa hari yang lalu, aku menghabiskan sepenggal nyawaku di kamar dan rasanya aku sudah bosan hidup di kamar. Karena itu, setelah selesai masak tadi siang dan gelap kemudian datang, aku memutuskan untuk melek di ruang bawah saja. Paling tidak aku merasakan suasanya baru—sekalipun ruangan inipun biasa aku gunakan untuk sekedar duduk-duduk.
Aku masih membaca Dua Kelamin bagi Midin Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980. Sudah setengah buku aku selesaikan. Bulan lalu aku juga sudah menyelesaikan kumpulan cerpen yang diterbitkan Kompas, juga buku-buku Pramoedya yang belum selesai aku baca di Indonesia.
Bel berbunyi. Aku bertanya ke temanku yang sedang masak apakah bel berbunyi. Dia jawab ‘ya’. Tapi siapa yang akan bertamu? Semua penghuni rumah ini sudah masuk kandang masing-masing. Aku menuju pintu masuk. Aku tidak melihat ada orang di luar. Aku masuk lagi. Aku melanjutkan membaca cerpen-cerpen Kompas. Ada yang menarik ada juga yang tidak. Tidak lama bel bunyi lagi. Aku buka pintu, seorang laki-laki membawa baki datang dan memberiku sebungkus kue sambil menjelaskan kenapa dia memberiku kue. Awalnya aku mengerti apa yang dia katakan, tetapi lama ke lamaan aku tidak mengenali lagi kosa katanya. Lalu aku minta dia bicara pakai bahasa Inggris saja.
Dia menjelaskan lagi bahwa kue yang dia berikan dari orang yang sedang merapihkan bangunan tidak jauh dari rumah yang kami tinggali. Memang di sana, sekitar 50 meter dari rumah yang kutinggali, ada sejenis proyek pembangunan rumah. Dia bilang bahwa kue itu diberikan karena mereka merasa sudah mengganggu kami. Dia bilang buldosernya berisik. Jadi, kue itu sejenis permohonan maaf. Kira-kira begitu penjelasan dia.
Selain itu dia juga menitipkan satu bungkus kue lagi. Sebungkus kue yang terakhir itu agar aku berikan ke rumah yang berdampingan dengan rumah yang kutinggali. Dia bilang, dia sudah mengebelnya, tetapi tidak ada orang yang keluar. Aku bilang, ‘ya’. Seperti biasa, sebagaimana orang Belanda, aku bilang, “dank u wel”—hatur nuwun!
Sambil membawa bingkisan kue itu aku berpikir kok baik betul orang di sini—dalam konteks ini. Mereka merasa sudah menganggu ketenangan warga dengan deru buldoser. Sebagai permintaan maaf atau ucapan terimakasih mereka memberi kami kue. Sebungkus kue tentu saja murah. Aku bisa membelinya di warung dengan harga satu sampai dua euro. Dulu memang sering terdengar suara buldoser, tetapi itu juga tidak terlalu keras. Suara musik masih jelas terdengar, masih enak dinikmati. Sambil menimang-nimbang bingkisan kue itu aku betul-betul merasa terhormat. Rasa terhormat selalu juga aku rasakan saat melintasi jalan. Di penyebrangan yang tidak ada lampu merahnya aku bisa dengan santai melintas sekalipun ada mobil. Bila ada orang melintas atau berdiri di pinggir jalan di penyebrangan, 99,9 persen mobil akan berhenti untuk menyilakan pejalan untuk lewat. Untuk hal yang demikian, aku suka Belanda. Aku betul berhadap yang demikian ini ada di Indonesia. Bila demikian adanya, tentu aku semakin cinta kepada perempuan bernama Indonesia itu.
Leiden, 28 December 2007, 11:08 pm