Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Tanggal 21 Januari 2008 dua final paperku harus sudah aku serahkan. Sekarang sudah tanggal 27 Desember 2007. Ada waktu kurang dari sebulan. Belum lagi waktu yang ada itu harus aku potong beberapa hari karena ada hal lain yang harus aku kerjakan. Maka seperti biasa, aku menghabiskan malam-malamku. Malam kemarin lusa aku tidur sekitar jam tujuh pagi, begitu juga malam kemarin. Kemarin masih beruntung sebab dari magrib hingga jam 11 malam aku sempat tidur. Dan selama tiga hari terakhir ini aku tidak keluar rumah, bahkan keluar kamar. Aku keluar kamar hanya untuk kencing dan berak, serta masak untuk makan.
Selama di kamar kadang aku hubungi kawanku lewat yahoo messenger. Aku tanyakan apa kabar dia dan apa saja yang dia kerjakan. Kadang ada yang bilang bahwa dia baru keliling dari kota anu dan kota ani. Saat sadar temanku sudah keliling-keliling sementara aku ada di kamar terus ada perasaan iri. Tetapi untuk jalan-jalan terasa malas karena dingin atau masih ada tugas yang belum selesai aku kerjakan—seperti sekarang.
Banyak hal yang aku kerjakan di kamar: baca buku, baca berita, nulis makalah, tidur, dengar musik, belajar bahasa Belanda, dan seterusnya. Kemarin malam aku memutuskan siang ini harus pergi ke perpustakaan sebab aku butuh data untuk mengisi sebagian makalahku. Setelah solat subuh jam 6 lewat sekian menit aku tidur. Jam 8 bangun lagi. Aku coba bangkit menuju jendela. Gorden aku buka. Di luar ternyata masih gelap. Kalau di Indonesia jam 8 sudah terang benderang, kehidupan sudah dimulai beberapa jam lalu. Karena masih gelap itu aku memutuskan untuk tidur lagi. Weker aku pasang, jam 9 bunyi sehingga aku yang tidur jadi bangun. Sekali lagi luar aku intip. Hari baru mulai terang. Tetapi itu juga belum seberapa. Aku pikir bila begini keadaannya lebih baik aku tidur lagi. Lagi pula semalam aku tidak tidur.
Aku tidur lagi dan baru bangun jam 1 siang saat hari mulai redup. Bila dihitung-hitung aku tetap saja tidak benyak memaanfaatkan waktu sekalipun semalaman aku tidak tidur, sebab sebagian besar siangnya aku gunakan untuk tidur. Bangun jam 1, ngurus ini itu butuh satu jam. Jam 2 berangkat ke kampus. Karena aku tidak punya sepeda aku jalan kaki, 30 menit. Aku masuk ke perpustakaan. Selalu saja di ruang mengetik banyak orang. Aku pikir ini orang-orang rajin betul: belajar, mengerjakan tugas, dan seterusnya. Karena ritual pagiku buka internet tidak aku laksanakan tadi, sebelum aku masuk ruang baca kajian timur, aku buka internet dulu. Ada sejumlah e-mail, termasuk e-mail dari temanku yang mengurus rencana perjalanan kami ke Spanyol, Itali, dan Perancis.
Selanjutnya aku naik ke ruang baca kajian timur. Begitu aku mau masuk ruangan, seorang lelaki wajah India keluar. Di belakang dia seorang perempuan keluar. Ini adalah perempuan yang pernah aku lihat sebelumnya, yang cantiknya aku bersujud kepada-Nya. Perempuan Belanda pada umumnya sangat cantik-cantik, tetapi perempuan yang tadi keluar itu jauh lebih cantik. Aku sungguh tidak bisa mengenali dia perempuan produksi mana. Aku pikir dia bukan orang Belanda, bukan juga India. Mungkin campuran yang bahan-bahannya tidak aku ketahui. Melihat perempuan secantik itu, tadi siang, rasanya rasa lelahku langsung luntur.
Aku melihat dia cuma sesaat, sebab aku bergegas naik dia bergegas turun. Aku sendiri langsung menuju ke rak ensiklopia. Ada beberapa data yang harus aku kutip, yaitu tentang menstruasi. Sedikit banyak aku tahu bagaimana hukum menstruasi dalam agama Yahudi dan Islam. Dan ini yang akan aku tulis untuk tugas akhirku. Aku perlu mengutip karena aku harus menyebutkan sumber pengetahuanku. Di saat itulah aku merasa seperti pertama kali masuk ruangan ini, dulu.
“Selama ini aku ke mana saja?” itu adalah pertanyaan yang tadi muncul lagi dan lagi saat membuka-buka The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, The Encylopedia of Islam, dan Encylopedia Judaica. Pertanyaan itu muncul sebab aku melihat banyak buku di sana dan aku merasa tidak tahu apa saja yang ada di buku-buku itu. Selama ini aku banyak mengabiskan waktuku di kamar. Kamarku sempit. Buku tidak banyak, paling hanya 50 buah saja dan itupun belum selesai aku baca. Tiba-tiba saja aku merasa rugi sudah berbulan-bulan ada di kampus ini belum banyak buku yang aku baca.
Setiap kali aku dihadapkan ke buku yang banyak, lalu muncul pertanyaan: apa yang sudah aku baca; selalu saja aku tidak bisa menjawabnya. Di lemariku ada setumpuk makalah-makalah dan kopian buku. Semua itu adalah bekas kuliah selama 10 bulan terakhir ini. Jadi, semua itu sudah aku baca. Tetapi bila ditanya: apa yang sudah aku ketahui dari teks-teks itu; mungkin aku bisa jawab; tetapi pertanyaan berikutnya: apa cuma itu?
Tetapi bila aku bilang bahwa aku tidak baca, salah juga. Sebab dua hari terakhir saja aku baru tidur pagi hari. Sepanjang malam itu aku membaca cerita pendek pilihan Kompas, belajar bahasa Belanda, baca buku ini dan itu. Bila aku buka account buku pinjamakanku selama ini, sudah banyak, sudah beratus—sekalipun aku hampir tidak pernah menyelesaikan bacaanku.
Belum banyak yang aku ketik di ruang baca itu, jam sudah menunjukan pukul 4. Ada waktu satu jam lagi sebelum perpustakaan tutup. Sekarang memang kampus sedang libur. Jadi tutupnya jam 5. Biasanya jam 10 malam. Karena itu aku memutuskan untuk mengopi beberapa entri dari tiga ensiklopedia tadi. Pikiranku agar aku bisa melanjutkan mengerjakan tugas malam ini di kamar.
Sambil pulang dari perpustakaan, sebagaimana biasanya, pikiranku melayang-layang. Inilah itulah aku pikirkan. Tetapi setelah itu biasanya apa yang aku pikirkan lupa lagi. Saat itu aku berhitung waktu: kesimpulanya aku masih punya waktu 7 bulan lagi di Belanda. Kuliahku sudah selesai. Sisanya aku harus mengerjakan dua tugas akhir dan satu tesis.
Bila aku bertanya: selama ini aku ke mana saja dan apa saja yang sudah aku ketahui, jawabannya aku tidak ke mana-mana dan belum banyak yang aku ketahui. Tadi pulang aku melintasi jalan yang sama, entah untuk yang ke berapa kali. Selama berjalan begitu aku bertanya kepada diriku sendiri:
- Gereja yang ini sudah kamu foto belum?
- Belum.
- Lorong yang ini sudah kamu foto?
- Belum.
- Gedung tua yang itu?
- Belum.
- Jembatan yang di kanal itu?
- Belum.
- Lalau selama ini kamu ke mana saja?
Leiden, 27 December 2007, 8:19 PM
punten kang, kumaha tiasa kenging beasiswa ti belanda? abdi oge lulus ti pasantren teras lulus t sejarah UPI,tapi hoyong sakola deui? upami kapungkur tiasa kenging beasiswa kumaha? abd osok maos tulisan2 akang ti kapungkur keneh. punten di waler nya ka dudinov@yahoo.co.id