Oleh Ibnu Adam Aviciena
Saat melintasi sebuah toko majalah dan buku di Serang, dekat kantor pos di Serang Banten, tahun 2004, aku merasa ingin berhenti di sana. Ada setumpuk buku yang menarik mataku, buku itu berjudul Aku Melawan Teroris tulisan Imam Samudra. Buku itu aku beli dan aku baca. Di salah halaman buku itu Imam menceritakan dirinya yang merasa senang menemukan salju di Afganistan.
Awalnya bisa jadi merasa senang menemukan salju. Tetapi salju itu dingin dan dingin itu tidak enak, kecuali es krim. Saat aku dan kawan-kawanku keluar dari bandara Schiphol Februari tahun lalu, kami merasa sangat gembira menemukan kedinginan. Kami menghebus-hebuskan udara dari mulut kami. Begitu uap panas yang tampak seperti asap keluar kami tersenyum senang, mirip anak-anak yang sedang bermain. Begitupulalah Imam Samudra menceritakan pengalamannya menemukan salju.
Malam ini di Leiden suhu 0 derjat celcius. Aku tinggal di kamar atas di sebuah rumah di Koningstraat. Kaca jendela kamarku tipis untuk ukuran Belanda. Ada beberapa lubang sebesar lidi. Dari lubang-lubang itulah angin masuk. Angin itu membawa dingin sehingga pemanas sampai tidak sanggup menghangatkan ruangan kamarku yang kecil. Lubang yang dimasuki angin sebetulnya tidak banyak. Mungkin hanya ada lima. Sebagian bahkan sudah aku tutup pake lakban dan dua di diantaranya aku tutup dengan menempelkan coklat. Tetapi tetap saja aku kedinginan. Seprai yang biasa aku pakai selimut ditambah satu selimut tebal tetap tidak sanggup menghilangkan dingin. Karena itu, seperti beberapa malam sebelumnya, aku memilih tidur di ruang keluarga/tamu. Ada beberapa keuntungan tidur di ruang ini: pertama, ruangan ini jauh lebih besar dari kamar tidur, jadi aku tidak akan bangun dengan wajah pucat karena kekurangan udara; kedua, tampaknya tidak ada lubang yang memungkinkan udara masuk, jadi aku tidak kedinginan; ketiga pemanas ruangan lebih kuat di bawah dibandingkan dengan pemanas di kamar, jadi aku merasa hangat.
Dingin itu tidak enak. Kemarin bahkan minus satu. Baru kali itu aku menemukan cuaca minus satu. Mungkin hari sebelumnya juga pernah. Hanya sejak beberapa hari ini saja aku memasang plugin pemantau suhu di system tray laptopku, jadi aku bisa melihat perubahan cuaca kapan saja. Musim dingin itu tidak enak dan musim panas juga tidak enak. Musim dingin tidak enak karena dingin, pagi selalu datang terlambat dan malam selalu terlalu cepat tiba. Jam 8 siang hari baru mulai terang, baru mulai. Sementara jam 5 hari sudah gelap lagi. Musim panas tidak enak karena siang lebih panjang. Musim panas kemarin jam 3 malam langit sudah terang; sementara malam datang jam 11 malam—jam 10 malam matahari masih terang benderang. Mau solat isya harus menunggu jam 12 malam.
Karena sepedaku rusak, ban belakangnya kempes lagi dan lagi, aku ke kampus jalan kaki. Perjalanan aku tempuh selama 20 menit. Karena kelasku mulai jam 10, aku berangkat biasanya jam 9 lewat. Tidak terlalu jauh dari rumah yang aku tinggali ada kanal. Di jembatan di kanal itu aku biasanya melihat sisa tumpukan es. Tidak banyak. Bila aku menemukan tumpukan es, biasanya aku berhenti sebentar. Bila mau aku mengambil sekedar untuk memegang, kalau lagi malas biasanya aku tendang tumpukan es itu hingga buyar. Jadi, dalam hal ini aku mirip Imam Samudra juga. Tumpukan es juga biasa aku temukan di jembatan dekat Vroom & Dreesmann, sebuah mal di tengah perjalanan.
Yang merasa dingin tidak enak itu bukan cuma aku dan kawan-kawanku dari Asia. Dosenku yang mengajar hari Kamis, mungkin sebulan yang lalu, masuk kelas dengan mengenakan jaket dan agak kuyup. Dia bilang cuaca sedang dingin. Lalu kami mengomentari bahwa seharusnya cuaca seperti itu tidak lagi dingin bagi mereka yang sejak kecil tumbuh di negeri dingin ini. Dia bilang, tidak begitu. Lalu dia bilang bahwa cuaca di Indonesia enak.
Seminggu yang lalu, masih pada hari Kamis, selepas kuliah kami keluar. Di luar sambil jalan dengan teman sekelasku yang orang Belanda aku berbincang-bincang. Sekalimat dua kalaimat aku bicara pake bahasa Belanda. Sambil berjalan kami bertemu dengan temanku yang lain. Kami berhenti dan terus ngobrol bertiga. Temanku yang Indonesia ini menarik tasku mengajak ke perpustakaan, gedung terdekat. Temanku yang Belanda juga mengatakan hal yang sama. Aku tanya, memang ada apa?
“Dingin!” kata anak Belanda ini.
Aku tanggapi, “Kamukan orang Belanda. Biasa dengan dingin. Masak gak tahan?”
Dia jawab, “Aku juga manusia, kedinginan!”
Eeeh, aku pikir yang merasa dingin cuma aku. Ternyata bule juga manusia.
Leiden, 16 December 2007; 12:31AM
Aku baru baca empat bab The Performance of Human Rights in Morocco, masih tiga bab lagi.
atau orang melayu yang kepanasan di indonesia. orang bule akan bilang “hmm… orang melayu juga manusia”. gitukah? hehehe….