Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Setelah supervisor saya Prof. van Dijk, penulis Rebellion Under the Banner of Islam: the Darul Islam in Indonesia, menyetujui proposal penelitian saya yang baru, saya mulai mengumpulkan dan membaca buku tentang Banten dan mengumpulkan siapa saja penulis Banten sejak Syekh Nawawi sampai 2007. Mengumpulkan data tentang Banten tidak sulit. Di perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) yang didirikan 1851 terdapat 465 buku dan artikel tentang Banten, sementara di perpustkaan Universitas Leiden terdapat kurang lebih 120 buku—sangat mungkin beberapa buku yang ada di perpustakaan KITLV sama dengan buku yang ada di perpustakaan Universitas Leiden. Meskipun data tentang Banten banyak, tetapi sangat sulit mencari siapa saja penulis Banten itu.
Siapa Hoesein Djajadiningrat?
Dalam pencarian itu saya bertemu dengan Prof Dr Hoesein Djajadiningrat. Dalam sehari buku Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat: Karya dan Pengabdiannya biografi Hoesein Djajadiningrat yang ditulis oleh Drs. Sutopo Sutanto selesai saya baca. Selesai membaca buku ini saya sebagai pemuda kelahiran Pandeglang Banten merasa bangga bahwa dalam liku sejarah Banten telah lahir Hoesein Djajadiningrat. Dan maksud dari tulisan ini adalah untuk mengenal dan mengingat kembali ilmuwan besar dari Banten dan membangun rasa cinta dan bangga kepada Banten, tanah yang juga sudah melahirkan ulama besar Syekh Nawawi al-Banteni.
Hoesein Djajadiningrat lahir pada 8 Desember 1886 di Kramat Watu, Serang. Dia adalah orang Serang, Banten, dan Indonesia pertama yang mendapat gelar doktor dan profesor. Dia kuliah hingga lulus doktor pada 3 Mei 1913 dari Universitas Leiden Belanda dengan menulis disertasi Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten dibawah bimbingan Dr. C. Snouck Hurgronje (1857-1936).
Leluhur dari ayah Hoesein Djajadiningrat bernama Raden Wirasuta seorang anak puun Cibeo Kanekes yang diangkat oleh Sultan Ageng Tirtayasa alias Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah (1631–1692) menjadi punakawan dan prajurit. Karena kemampuan perangnya bagus Raden Wirasuta kemudian diangkat lagi menjadi Pangerang sekaligus ‘dinikahkah dengan salah seorang putrinya.’ Pada 1663 Pangeran Wirasuta meninggal saat memadamkan pemberontakan di Lampung. Ayah nenek Hoesein Djajadiningrat adalah seorang ngabehi kerajaan Banten yang bertugas di Lebak, sementara neneknya Raden Adipati Aria Natadiningrat seorang demang patih Caringin Pandeglang.
Nama lengkap Hoesein Djajadiningrat adalah Pangeran Ario Hoesein Djajadiningrat. Bapaknya Raden Bagoes Djajawinata (1854-1899) Wedana Kramat Watu dan Bupati Serang kelahiran Pandeglang, sementara ibunya Ratu Salehah kelahian Cipete Serang. Anak dari pasangan Raden Bagoes Djajawinata dan Ratu Salehah adalah Achmad alias Ujang, Muhammad alias Apun, Hasan alias Emong, dan Hoesein (Djajadiningrat) alias Ace, Hadijah alias Enjah, Lukman alias Ujang, Sulasmi alias Yayung, Hilman alias Imang, dan Rifqi alias Kikok.
Kakak pertama Hoesein, Achmad, setamat sekolah di Europeesche Lager Shool (ELS) Serang, melanjutkan ke Hoogere Burgershool (HBS) di Batavia dan tinggal di rumah gurunya Kampschuur selama lima bulan. Karena gurunya itu liburan ke Belanda, ia pindah ke HBS yang ada di Kebon Sirih. Oleh pimpinan HBS Kebon Sirih Kruseman Achmad diganti namanya menjadi Willem van Banten.
Anak-anak Raden Bagoes Djajawinata belajar bahasa Belanda sebelum masuk sekolah. Hoesein sendiri belajar bahasa Belanda di Menes Pandeglang kepada Ruselar seorang komandan polisi yang memunyai diploma guru bantu Eropa (Hoof-Acte). Proses belajar biasnya dilaksanakan pada malam hari. Ruselar menyarankan Bagoes Djajawinata untuk menyekolahkan anak-anaknya di Serang atau Batavia. Karena tidak punya cukup uang Bagoes Djajawinata memilih menyekolahkan Hoesen di Europesche Lagere Shool (ELS) Serang. Di Serang Hoesein tinggal di rumah pamannya yang juga bupati Serang saat itu, yaitu Raden Adipati Sutadiningrat. Karena pada 12 November 1893 pamannya itu meninggal, Hoesein Djajadiningrat pindah tinggal ke rumah Wedana Petir yang juga saudaranya.
Selanjutnya Hoesein Djajadingrat sekolah di Kok en van Diggelen di Batavia. Di sanalah ia bertemu dengan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya, Dr. Snouck Hurgronje. Hurgronje banyak mengajari Djajadiningrat bagaimana mengarang dan mendiskusikan karangan-karangan yang ditulis oleh Djajadiningrat. Kemudian, 1899 ia lulus sekolah dan melanjutkan ke HBS di Salemba. Pada tahun itupula bapaknya Raden Bagoes Djajawinata wafat.
Melihat perkembangan pendidikan Djajadiningrat yang bagus, Snouck Hurgronje merasa tertarik untuk mendukung pendidikan Djajadiningrat selanjutnya. Karena itu setelah Djajadiningrat masuk kelas 3 HBS, Snouck Hurgronje mengirim surat kepada Achmad, kakak Djajadiningrat, agar Djajadiningrat melanjutkan pendidikannya ke Universitas Leiden, Belanda. Singkat cerita, Djajadiningrat mempelajari bahasa Latin dan Yunani saat kelas 3 HBS untuk persiapan kuliah di Belanda. Tahun 1904 ia lulus HBS dan berangkat ke Belanda. Tahun pertama di Belanda ia masih mempelajari dua bahasa itu di Leidsche Gymnasium. Tahun 1905 Djajadingrat menjadi mahasiswa Universitas Leiden dan dengan segala kegemilangannya ia terus kuliah hingga menulis disertasi Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten di bawah bimbingan Dr. C. Snouck Hurgronje dengan hasil cumlaude.
Pusat Penelitian Banten
Selesai membaca biografi Hoesein Djajadiningrat pikiran saya terus dibayang-bayangi oleh kondisi Menes, Pandeglang, Kramat Watu, Serang, dan Banten pada umumnya pada tahun 1800-an. Saya juga membayangkan bagaimana Djajadiningrat saat itu kuliah di Universitas Leiden, dan bagaimana pula hubungan ia dengan Sosrokartono, kakaknya RA Kartini (1879-1904) yang juga sedang kuliah S3 di Universitas Leiden. Kepada Djajadiningrat Snouck Hurgronje begitu baik, sedangkan kepada Sosrokartono Snouck Hurgronje tidak suka. Bahkan saat menjadi dekan di Universitas Leiden Snouck Hurgronje pernah bilang kepadanya bahwa ia tidak akan meluluskan Sosrokartono. Dan karena itu Sosrokartono memutuskan berhenti kuliah dan memilih menjadi wartawan.
Dan dalam keadaan terbayang-bayangi itu saya ingat ISIM (The International Institute for the Study of Islam in the Modern World), sebuah institut yang didirikan 1998 oleh Universitas Amsterdam, Universitas Leiden, Universitas Nijmegen, dan Universitas Utrecht. Institut yang kantornya ada di Leiden ini bergerak dalam bidang penelitian ‘sosial, politik, pemikiran, dan pergerakan dalam masyarakat dan komunitas muslim kontemporer’.
Bangun tidur, suatu pagi, saya ingat ke Mufti Ali dosen IAIN Banten lulusan Universitas Leiden. Sebelum berangkat ke Belanda saya sering diskusi dengannya tentang mimpi kami tentang Banten ke depan. Mufti Ali yang sedang giat mengumpulkan naskah-naskah kuno tentang Banten itu bilang ke saya bahwa selama ini orang yang mau meneliti Banten harus pergi ke Belanda. Katanya, ‘Kenapa tidak datang ke Banten?’ Karena itu Mufti Ali pikir, dan saya sangat setuju, perlu dibuat Pusat Penelitian Banten (PPB). Sebagai pusat penelitian, PPB melakukan dokumentasi dan penelitian segala hal tentang Banten—seperti yang dilakukan ISIM.
Dalam bayangan saya seperti ini: PPB didirikan. Ia memiliki hubungan dengan pemerintah dan lembaga pendidikan, namun ia independen. Yang dilakukan PPB di antaranya adalah mengumpulkan data-data tentang Banten, misalkan membawa kopian buku-buku tentang Banten yang ada di luar negeri. Di KITLV dan Universitas Leiden misalkan, sebagaimana saya sebutkan di atas, terdapat lebih dari 500 buku tentang Banten, dan itu belum termasuk naskah-naskah kuno. Selain itu yang dilakukan PPB adalah melakukan penelitian karena PPB adalah tempat berkumpulnya para peneliti.
Saya melihat Banten ini adalah lahan yang subur untuk dijadikan penelitian. Ada dua alasan kenapa saya mengatakan demikian. Pertama bahwa Banten secara alamiah adalah lahan dengan beragam fenomena. Yang kedua adalah bahwa tradisi meneliti di Banten belum mapan, karena itu lahan kosong penelitian masih banyak yang belum digarap. Sebut saja yang bisa dikerjakan oleh para peneliti adalah mengumpulkan cerita rakyat dan mematenkannya; mengumpulkan ilmu pelet, ilmu kebal, ilmu teluh, dan ilmu-ilmu lain, juga wafak. Menulis tentang Syekh Nawawi Banten dan Tan Malaka (1894-1949), mengumpulkan dan mendiskusikan karya-karya mereka. Khusus tentang Tan Malaka, sebab Tan Malaka penulis Madilog juga pernah memimpin pergerakan di Banten Selatan di zaman Jepang.
Sebagaimana juga ISIM, PPB ini melakukan penelitian di bidang sosial, politik, sejarah, pemikiran, ekonomi yang terjadi di Banten. Para peneliti silakan mengajukan proposal penelitian kepada PPB. PPB yang mendanai dan memberi honor kepada mereka. PPB pula yang menerbitkan dan mempublikasikan hasil penelitian para peneliti sampai tingkat internasional. Dengan begitu, orang ingin meneliti Banten tidak usah pergi ke Belanda. Dengen begitu Banten bisa mengulang kejayaannya.
nulisna anu teliti adul. eta geus alus tp narasina kurang mendayu-dayu. refleksina dipertajam atuh. ceunah penulis noPEL (tong make v-nya). hehehehe… tetangga atas
Nama saya Hilman K. Nurakhman. Ibu saya Fia Saraswati Djajadiningrat sementara ayah saya (alm) bukan keturunan dari Banten ataupun Jawa Barat sehingga saya tidak menggunakan nama keluarga “Djajadiningrat”. Ibu adalah cucu dari Achmad dan Hilman Djajadiningrat. Tulisan anda sesuai sekali dengan apa yang saya baca berdasarkan buku “Memoir P.A.A. Djajadiningrat”, dan teliti sekali hingga menyebutkan Raden Akmaldiningrat atau Raden Wirasuta.
Tentang ayah dari Hoessein Djajadiningrat, mungkin saya sedikit keliru, tetapi seingat saya nama beliau adalah Raden Bagoes Djajadiningrat, putra dari Raden Natadiningrat dan sebagai orang pertama yang menggunakan nama Djajadiningrat. Barangkali nama lain beliau adalah “Djajawinata”? kiranya anda dapat membantu saya memberikan konfirmasi.
Terima kasih dan wassallam.
Ass, Salam kenal dari hendri. Saya asli orang Banten Selatan. Lahir di kerta, Kecamatan Banjarsari (orang2 lebih mudeng dengan Malingping), Kabupaten Lebak. Saat ini ceritanya saya sedang jadi warawan di majalah FIGUR, Jakarta. Majalah Tokoh dan Analisi Kebijakan. Jika diperkenankan, saya bisa kontribusi majalah-majalah FIGUR yang mungkin bermanfaat bagi warga Banten dan sekitarnya. Insyaallah pada saat Goenawan Muhammad ke Rumah Dunia akan saya bawa majalahnya untuk dijadikan koleksi perpustakaan Rumah Dunia. Oia, kang insyaallah buku saya tetang Romusha: Sejarah Yang Terlupakan, Menelusuri Jejak Romusha di Pertambangan Batu Bara Bayah Banten Selatan 1942-1945 akan diterbitkan oleh Penerbit OMBAK Yogyakarta rencananya Januari 2008. Oia, tulisan saya tentang Jazuli_Airin: Kyai, Jawara, dan Politik dimuat di Radar Banten (23/10/1007).
Mungkin kita bisa korspondensi via email henfi_86@yahoo.co.id atau hp saya 081806370121.
Salam Kenal, Hendri F. Isnaeni.
aslm, punten kang, nyuhunkeun artkelna kanggo bahan skripsi, diidinan teu?
Salam kenal dari penggemar literatur karya Hoesein Djajadiningrat.
salam, peripun kabare? atis boten ning riku???
terkait ide PPB (tags; independen, riset, objective, islamology, silat, tarekat, pertanian, …etc)
lamun ayun direalisasi, kule ngedukung saos. Upami lamun bangkit mulai sing gampang… kule ayun bagi saran niki:
- model na nu gampang disumbangsih tina segala bumi (online)
- gampang upload hasil riset (doc, jpeg, de el el)
kule ayun milet nyumbang server kule http://202.87.187.46 silahkan di anggo kanggo ide PPB.
Insya Allah katah manpaate…
Saya senang sekali membaca mimpinya untuk mewujudkan sebuah pusat penelitian di Banten, semoga terwujud yah. Salam kenal. Oman (www.naskahkuno.blogspot.com)
senang sekali membaca tulisan ini ..lebih tepatnya membanggakan sekali ada yang menulis begitu baik tentang kakek saya. Banyak yang saya belum mengetahui tentang beliau karena saya tidak pernah bertemu . Terima kasih ya Ibnu.
wassalam
Kiki Djayadiningrat
——
Terimakasih atas komentar Anda. Bila memungkinkan saya sesungguhnya ingin ngobrol dengan keturunan Djajadiningrat (Achmad, Leokman, Hoesein, dll).
Salam hangat,
Ibnu aa