Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Aku berangkat dari stasiun De Vink dengan satu tas besar yang berisi satu pak roti, satu toples coklat kental untuk pasangan roti, satu porsi nasi plus ikan, dan dua liter jus jeruk. Bayangan Jerman sebagai negara maju dengan segala kecanggihannya membayang-bayangi. Begitu juga dengan bayangan untuk menuliskan semua pengalamanku, tidak hanya pengalaman dari Jerman. Dan ini tidak akan terlalu sulit sekalipun aku tidak segera menuliskannya, sebab aku memiliki sebuah kamera digital Traveler 8,1 Pixel 6x optical zoom. Dengan kamera yang aku beli seharga 1.99 Euro (sekitar Rp. 2.388.000) itu aku bisa mengumpulkan sebagian kenanganku. Sebagian kenangan itu aku rekam sebagai foto dan sebagiannya lagi sebagai video. Karena itupula aku membeli external hard drive 160 GB seharga 87 Euro (Rp. 1.044.000). Kemudian setelah senggang sedikit demi sedikit kenangan itu akan aku tuliskan.
Jarak dari Stasiun De Vink ke Stasiun Den Haag tidak jauh. Aku tidak tahu berapa kilometer pastinya. Paling tidak aku bisa mengatakan dekat karena Den Haag adalah stasiun kedua setelah Leiden Centraal dari jalur Amsterdam-Harleem-Leiden Centraal-Den Haag-Rotterdam. Selain itu sebuah gedung di Den Haag juga tampak dari kamar temanku yang sama-sama satu lantai denganku, di lantai empat. Dihitung waktu, dari stasiun De Vink ke stasiun Den Haag hanya …. Menit. Ongkosnya pun cuma 1,6 Euro, atau sekitar Rp. 19.200 setelah didiskon 40 persen (nanti aku cerita tentang kartu diskon).
Sampai stasiun Den Haag pukul 7 sore, sementara bus jemputan akan datang pukul 7:30 sore. Jadi masih ada waktu cukup lama. Di stasiun itupun tak banyak orang. Tak ada warung, tak ada juga tukang asongan, tak ada pula bus menunggu penumpang. Waktu awal-awal aku di Belanda agak heran juga melihat perbedaan antara bus di Indonesia (di Banten maksudnya). Di terminal-terminal bus di Banten, mungkin sama juga dengan di terminal-terminal bus di kota lain, bus menunggu penumpang dan baru akan berangkat setelah busnya penuh penumpang. Di sini bus terus berjalan dan hanya akan berhenti sekitar tiga menit saja di terminal.
Terminal bus Den Haag sepi mungkin karena sudah sore. Di saat sepi menunggu bus Aeroline, bus yang akan aku gunakan ke Jerman, aku diminta memfotoi teman-temanku. Mereka percaya foto hasil jepretakku bagus-bagus. Ini yang pernah aku bilang kepada teman-temanku bahwa tidak enaknya jadi fotografer itu tidak bisa memfoto diri sendiri. Sama dengan tukang cukur—dua profesi yang sekaligus aku jalani.
Aku fotoi mereka. Aku fotoi lingkungan terminal bus Den Haag. Stasiun di sini tidak dinamai dengan nama kota yang akan dituju, tetapi cuma dengan huruf-huruf saja: jalur A, B, C, sampai Z. Apabila tidak paham dengan semua istilah itu bisa tanya ke petugas. Tidak bisa bahasa Belanda? Tak usah khawatir. Hampir 100 persen orang Belanda bisa bahasa Inggris. Aku juga fotoin teman-temanku yang bergaya di bus dua tingkat. Dan aku pun mintai mereka fotoin aku. Aku juga pengen difoto. Emang tukang masak tidak suka makan
Soal bus dua tingkat sebetulnya biasa saja. Sejak awal-awal juga aku biasa nemuin. Masalahnya ini difoto di depan bus dua tingkat sebelum berangkat ke Jerman. Kata ‘Jerman’nya inilah yang membedakan. Dua hari berikutnya sesudah ada di Jerman, pagi hari, temanku bilang malam harinya dia bermimpi. Dia sangat senang sekali dengan mimpi itu. Dia bilang, “Mimpinya sih biasa saja. Yang membedakan dari mimpi-mimpi sebelumnya adalah…ini mimpinya di Jerman!”
Saat di terminal bus Den Haag aku melihat wajah-wajah Indonesia. Mereka tampaknya masih baru. Aku perkirakan demikian karena gerak tubuh mereka yang canggung. Aku tak menyapa mereka dan merekapun tak menyapa kami. Jarak kami sekitar tujuh meter. Aku cuma perhatikan mereka yang kemudian naik sebuah bus, lalu turun lagi. Mungkin mereka salah naik bus. Setelah itu mereka masuk ke pos petugas terminal. Tidak terlalu lama mereka keluar lagi dan naik sebuah bus, meninggalkan aku yang memikirkan mereka.
Pagi itu cuaca terasa dingin, sebagaimana hari-hari sebelumnya. Aku perkirakan cuaca 10-17 derajat celcius. Aku perkirakan sebegitu karena setiap kali aku berangkat ke kampus aku biasanya mengecek penunjuk cuaca di dinding sebuah apotek, Apotheek Kok. Dinginnya pada suatu hari berangkat ke kampus hampir sama seperti dinginnya pagi itu di terminal Den Haag. Tanganku aku masukan ke saku jaket hijau tebal pemberian Pak Mintarjo. Sekalipun demikian badanku tetap saja bergetar. Maka agar aku tidak kedinginan aku berjalan-jalan. Jalan-jalan adalah cara termudah menghangatkan tubuh.
Berkali-kali bus Aeroline datang. Tetapi bukan yang itu. Nyebelinnya sopir bus Aeroline itu tidak mau ditanya. Setiap kali mendekati pintu bus Aeroline yang berhenti, sopir-sopir itu langsung menggerakkan telapak tangannya yang berarti ‘tidak’ atau ‘jangan’. Sopir-sopir itu, ingin aku katakan, juga bule. Di Indonesia bule seringkali diposisikan berderajat lebih tinggi dari orang kulit berwarna gelap. Orang bule di sini juga sebetulnya tidak hanya berprofesi sebagai sopir, banyak juga yang tukang sampah, tukang benerin pintu rusak, dan pekerjaan tukang lain.
Dan bus yang kutunggupun datang. Bus itu membawaku ke kantor Aeroline di Amsterdam untuk mengambil penumpang lain. Di kantor Aeroline juga aku dan kawan-kawanku mengambil tiket. Aku melihat seorang petualang berwajah Cina. Bagaimana penampilan seorang petualang? Stereotype, sama saja dengan penampilan petualang lain dari daerah manapun: kaos dekil, wajah kucel, rambut kering tak terurus, dan tas pundak yang sangat besar. Pemuda Cina itu membaca-baca buku tujuan wisata Jerman. Aku membayangkan dia adalah diriku yang datang dari Cina mau keliling Eropa. Aku bayangkan saat itu bukan tahun 2007, melainkan tahun 1800-an….
Smaragdlaan, 22 Mei 2007, 11:32 PM
Apa kabar k’ Ade? eh, maaf…k’ Ibnu…(bolehkan aku manggil nama asli k2?!) Saya “alumni” LPM SiGMA lho…(maklum, hampir lulus dari IAIN, bentar lagi wisuda), remember me??? Pasti ga inget, hehe..:-) wah…tulisan k2 benar2 mengajak saya berpetualang juga disana. Luar biasa sekali!
Semangat ya!!!
Semoga Sukses!
assalamualaikum
eh boleh nanya lagi engga? klo untuk kursus TOEFEL dan ITLS
yang bagus di mana ya? juga klo boleh ana minta e-mail antum untuk konsultasi, maklum ana basicly Islamic Study, butuh informasi tentang program beasiswa megister di program yang sama, syukran sebelumnya!
assalamualaikum
eh boleh nanya lagi engga? klo untuk kursus TOEFEL dan IETLS
yang bagus di mana ya? juga klo boleh ana minta e-mail antum untuk konsultasi, maklum ana basicly Islamic Study, butuh informasi tentang program beasiswa megister di program yang sama, syukran sebelumnya! tlng balas ke e-mail ya!