Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Suatu sore di kampung Hegar Alam No 40 Ciloang. Matahari sudah bergeser ke sebelah barat. Sebagian sinarnya menerobos dedaunan, jatuh di halaman 1000 meter persegi yang dialasi bebatuan. Di tanah seluas itu tumbuh beberapa pohon lumayan besar. Pohon hias juga banyak tumbuh di sana. Karenanya, meski hari terik, di tempat tersebut tetap adem, tetap segar.
Tidak hanya ada panggung dan pohon rimbun yang tumbuh di lahan seluas itu, melainkan juga ada toko buku, mushala kecil di satu sudut, perpustakaan anak, dan perpustakaan dewasa. Di gerbang masuk tergantung sebuah papan nama komunitas ini: Rumah Dunia.
Rumah Dunia adalah sebuah komunitas kesenian yang didirikan pada 3 Maret 2002 oleh pasangan suami-isteri Gola Gong dan Tias Tatanka. Rumah Dunia adalah pusat belajar masyarakat. Di sana anak-anak, remaja, dan dewasa bisa belajar banyak hal. Dari Senin hingga Jum’at sore, sepulang sekolah, mereka boleh datang untuk membaca, mendongeng, melukis, belajar menulis, berteater, dan lain-lain.
Mau membaca, ribuan buku tersedia di sini. Dari jenis komik Jepang, cerita nabi, sastra pop hingga yang serius, agama, bahkan filsafat. Anak-anak mau belajar menggambar, tinggal datang. Rumah Dunia punya pelukis yang jadi instruktur di sana. Kertas, krayon, cat cair, cat genteng, dan semua kebutuhan sudah tersedia. Ingin bisa main teater, pelaku teater dari Gesbica IAIN Banten dan Kafe Ide Untirta siap mengajari. Mereka ingin bisa menulis puisi, jurnalistik, atau prosa juga ada pembinanya. Dan, semuanya tentu gratis!
Bagi pelajar dan mahasiswa, atau siapapun yang sudah dewasa ingin berdiskusi, komunitas yang punya motto “membentuk dan mencerdaskan generasi baru” ini pula menyediakan ruang dan waktu. Setiap Sabtu sore, lebih dari 50 orang datang ke sini untuk mendiskusikan tema tertentu, selama berhubungan dengan pendidikan terutama perbukuan. Untuk tahun 2005, program baru bahkan sudah didesain. Selain program harian dan juga program seperti tahun sebelumnya, mulai 8 Januari Rumah Dunia menghadirkan pelaku kesenian, khususnya penulis yang sudah mapan di skala nasional, untuk dibedah pikirannya.
Minggu, bagi pekerja barangkali hari libur, waktu yang biasanya digunakan untuk bersantai atau berkunjung ke tempat-tempat wisata. Learning centre ini malah menggunakannya untuk kelas menulis. Pelajar atau mahasiswa yang ingin menjadi penulis jurnalistik, sastra, bahkan bagaimana menulis skenario TV akan mengatakan, “Inilah tempatnya!”
Kelas Menulis
Rumah Dunia tiap tiga bulan sekali membuka kelas menulis untuk 30 orang. Selama waktu itu mereka akan dibina bagaimana menemuka ide, mengelola dan mengembangkannya, kemudian menuangkan gagasan itu ke kertas/komputer. Tidak sampai di sana, melainkan ditunjukan juga bagaimana menembuskan naskah yang sudah dituliskannya ke penerbit sehingga dibaca ribuan orang dan ia, sebagai penulis, mendapatkan penghargaan berupa royalti.
Angkatan pertama dari kelas menulis itu sudah menelurkan antologi cerpen Kacamata Sidik, boleh dibilang gambaran Banten yang ditinjau dari dunia sastra. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Senayan Abadi Jakarta. Tulisan mereka sudah sering menghiasi media lokal bahkan di beberapa media nasional. Gerimis Terakhir, novel Qizink La Aziva, adalah satu contoh karya yang ditebritkan Penerbit Mizan. Menyusul Sayap-Sayap Ababil (novel Firman Venayaksa), Di Mana Bidadariku? (novel Ibnu Adam Aviciena), dan Panggil Aku Bunga (antologi Ibnu Adam Aviciena bersama Najwa Fadia) akan keluar sekitar Februari. Belum lagi antologi cerpen yang dibuat bersepuluh: Harga Sebuah Hati, Padi Memerah, dan Pelangi Jatuh di Kotaku juga rencanya akan keluar pada bulan yang sama.
Kelas menulis sekarang sudah berjalan pada angkatan keempat. Mereka, sama dengan angkatan sebelumnya, juga sering menulis. Angkatan kelima sudah dibuka sejak Desember ini dan akan ditutup 7 Januari 2005. Pelajar atau mahasiswa yang ingin gabung tinggal datang ke alamatnya, mengisi formulis, menyerahkan foto dan tulisan jurnalistik dan prosa—yang ditulis sendiri. Tanpa biaya sama sekali alias, gratis! Sejak itu hingga tiga bulan ke depan, setiap Minggu sore, akan dibina untuk jadi penulis. Karena ini menyangkut dua subjek, pengajar dan peserta kelas menulis, tentu keseriusan dan keulatan (dari yang ingin bisa) sangat menentukan keberhasilan.
Crash Program
Ada program lain yang mirip dengan kelas menulis, yaitu crash program. Frase tersebut bisa dipahami dengan kursus menulis singkat. Kata ‘kursus’ yang bersanding dengan kata ‘menulis’ menimbulkan kesan bayar. Kalau orang menganggap demikian, maka anggapan itu menjadi keliru. Karena, sekali lagi, di Rumah Dunia tidak ada yang bayar!
Secara teknis program ini tidak jauh beda dengan kelas menulis yang diselenggarakan tiap Minggu sore. Bedanya, karena proses belajar berlangsung selama empat pertemuan (satu bulan), materi yang diajarkan hanya jurnalistik. Tujuannya memang, peserta yang ikut program tersebut bisa mengembangkan majalah dinding sekolahnya. SMA Jawilan, sekolah pertama yang mengikuti program itu, sekarang sudah menerbitkan majalah sekolah Si Jayus.
Jurnal dan Radar Banten
Untuk mendukung semua program tersebut di atas, komunitas yang konsen kepada pengembangan minat dan bakat di bidang sastra ini, menerbitkan jurnal Rumah Dunia. Jurnal 20 halaman inilah yang nanti akan memuat karya, baik lukisan maupun tulisan, anak Rumah Dunia. Awal Januari, edisi kelima “majalah” bulanan ini akan terbit. Dan lagi-lagi, gratis!
Sementara untuk memublikasikan semua kesibukan di sana, Rumah Dunia bekerjasama dengan koran Radar Banten. Masyarakat bisa tahu apa saja peristiwa yang terjadi selama satu Minggu dengan membaca koran lokal tersebut pada Kamis.
Karena Gratis, Maka…
Di sini memang 100% gratisnya. Semua instruktur yang mengajar gambar, teater, menulis jurnalistik dan prosa, menulis dan membaca puisi sama sekali tidak dibayar. “Kami tidak kaya,” terang Gola Gong Ketua Umum Rumah Dunia, “tetapi kamu bisa membantu.”
Untuk mendanai semua kebutuhan proses belajar itu, instruktur merelakan dirinya menjadi sukarelawan, hadir untuk mengabdirkan dirinya kepada perubahan. Tidak saja begitu, mereka bahkah ikhlas sebagian honor dan royalti tulisannya dipotong untuk untuk semua ini. Jikapun ada orang yang merasa bahwa pendidikan tanggung jawab bersama, dan hendak membantu menyumbang komunitas ini, apakah itu uang, krayon, cat cair, kertas, mainan, atau barang lain yang bermanfaat, bisa disampaikan ke alamat di atas. Atau bisa juga menghubungi telepon (0254) 202861, e-mail: rumahdunia@yahoo.com. Untuk uang mungkin bisa disampaikan ke BCA Serang No 245-188-5733 atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah. ***