Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Pagi ini (28 Maret) tak ada berita dan e-mail bagus yang saya terima. Kuliahpun libur karena mahasiswa S1 sedang ujian. Waktu libur ini saya gunakan untuk keliling kota Leiden dan masuk ke Museum Volkenkunde (www.volkenkunde.nl). Di museum tersebut saya menemukan masa lalu berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Ada perasaan sedih, haru, dan bangga. Setelah sore saya pulang dan membaca berita-berita Radar Banten (www.radarbanten.com). Saya membaca berita tentang pelarangan komunisme di Tangerang, Banten. Saya agak heran, kenapa komunisme harus dilarang?
Komunisme: Tema Lama
Menurut Alfian Tanjung ketua umum Pergerakan Islam untuk Tanah Air (Pintar) dan Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI), yang saya baca di Radar Banten, sudah mencul berbagai kelompok yang menggunakan paham atau perjuangannya mirip dengan gerakan komunis. Karena itu ia meminta masyarakat untuk mewaspadiai gerakan neokomunisme.
Selain itu Alfian Tanjung juga mengatakan, kelompok komunisme sudah berusaha menegakan dirinya. Ini, katanya, tampak dengan munculnya partai berhaluan kiri dengan tujuan untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan Indonesia. Untuk mendukung dugaannya, Alfian Tanjung menunjuk PRD yang berdiri 1996, sempat ikut pemilu 1999, dan kemudian mengganti nama menjadi Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Parpernas). Partai ini, juga menurut pengamatan Alfian Tanjung, sudah mempersiapkan diri untuk ikut pemilu 2009.
Karena dianggap sangat berbahaya, Alfian Tanjung atas nama Pintar dan GNPI meminta polisi untuk menolak rencana Parpernas yang akan mendeklarasikan dirinya pada 29 Maret di tugu Proklamasi, Jakarta. Setelah meminta tolong polisi, Alfian juga mengancam polisi. Katanya, kalau polisi tidak mau menuruti keinginan Pintar dan GNPI untuk melarang deklarasi Papernas, ia akan menghimpun ormas dan OKP untuk membubarkan deklarasi tersebut.
Setelah membaca berita itu, saya terheran-heran. Komunisme memang luar biasa. Zaman kegemilangan komunisme sudah usai, tanahairnya Uni Soviet sudah hancur, partai-partainya sudah dimatikan, termasuk Partai Komunis Indonesia, tapi Alfian Tanjung yang ketua umum Pintar dan GPNI (dan mungkin ketua-ketua umum yang lain) masih ketakutan. Teramat merasa ketakutannya ia bahkan sampai meminta tolong polisi. Dan kalau polisi tidak mau menolong, ia akan meminta tolong ormas-ormas dan OKP-OKP.
Arogansi Mayoritas
Dari berita yang ditulis oleh “chn” (Chandra?), meskipun agak garing, tampak jelas di mana posisi Alfian Tanjung. Ia dengan sangat terang benderang menyatakan bahwa dirinya adalah mayoritas alias jumhur, dan pada saat yang sama mayoritas bisa dipahami sebagai penguasa. Karena itu ia merasa berkuasa untuk meminta polisi untuk membubarkan deklarasi Papernas, merasa berkuasa untuk mengancam polisi, juga merasa berkuasa untuk membubarkan orang-orang kiri itu.
Cerita-cerita pelarangan: pelarangan buku, pemikiran, kepercayaan, barang, dan pelarangan-pelarangan yang lain sudah terjadi sejak dahulu kala. Sokrates (470-399 SM) harus mati memincum racun karena dia minoritas dan bersebrangan dengan penguasa (mayoritas) dan guru-guru sofis. Sokrates dituduh meniadakan dewa-dewa yang diakui negara dan memunculkan dewa-dewa baru, serta telah merusak perangai pemuda Athena.
Cerita pelarangan oleh mayoritas kepada minoritas juga terjadi dalam sejarah Islam. George Maksidi dalam The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West, meskipun dalam kasus yang agak berbeda, menceritakan pelarangan yang dilakukan oleh Khalifah [al-Mu’ta’did] pada awal 279 H/892 M terhadap buku-buku filsafat, teologi, dan dialektik. Lima tahun kemudian khalifah juga mendesak masyarakat untuk tidak lagi ikut dalam kegiatan yang berhubungan dengan filsafat, teologi, dan dialektik.
Komunisme dan Amerika
Saya tidak tahu sejauh mana pemahaman Irfan Tanjung terhadap sejarah komunisme, khususnya komunisme di Indonesia. Buku sejarah komunisme yang mana sajakah yang dibacanya, saya juga tidak tahu. Tetapi dari kegeramannya kepada komunisme diperkirakaan bacaan Irfan Tanjung adalah buku-buku sejarah yang ditulis oleh sejarahwan anak buah Soeharto. Soeharto, yang juga penguasa, dalam film G30S/PKI yang dibuatnya dicitrakan sebagai penyelemat dan pahlawan bangsa Indonesia. Ia telah berhasil menumpas PKI yang membantai para jendral itu. Sebagai pahlawan ia wajib diketahui. Caranya sekolah diliburkan agar siswa menonton film tentang dirinya itu.
Kita seringkali membenci sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu itu baik bagi kita. Saya kalau membaca teks dari agak jauh, teks itu tampak kembar. Padahal kata teman saya teks itu tidak kembar. Teks menjadi tampak kembar karena mata saya silindris. Teman saya yang lain bilang bahwa dinding kamar saya hitam, padahal putih. Dia bilang begitu karena ia memakai kacamata hitam. Irfan Tanjung benci banget kepada komunisme karena ia kebanyakan membaca buku-buku sejarahwan anak buah Soeharto dan waktu kecilnya kebanyakan menonton film G30S/PKI buatan Soaharto—juga.
Saya juga waktu kecil benci sekali kepada komunis—padahal saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu komunis. Tetapi lama kelamaan saya tidak terlalu benci. Bahwa mereka yang aktif atau sekedar kenal dengan orang-orang komunis banyak yang tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Harus diakui, berdasarkan hasil penelitian Michael C. Williams yang ditulisnya pada buku Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten, banyak ulama Banten yang juga menjadi anggota komunis. Mereka, ulama yang komunis itu, memberontak terhadap pemerintah Belanda.
Seperti kata saya, teks-teks yang tampak kembar dari kejauhan karena mata saya silindris. Seperti keyakinan saya bahwa kebencian orang kepada komunisme karena terlalu banyak makan sesajen Soeharto. Karena itu cobalah kita melihat objek dari sudut yang berbeda dari jarak yang berbeda. Barangkali akan kita temuka pemahaman baru tentang objek itu. Pemahaman saya tentang teks yang kembar itu juga berubah setelah saya selama dua bulan ini menggunakan kacamata. Dan barangkali pemahaman kita akan komunismepun akan sedikit berubah setelah kita mencoba sudut pandang baru. Tak usah gengsilah sesekali mencobanya.
Beberapa dokumen CIA Amerika dan Inggris menyatakan keterlibatan Amerika dan Inggris terhadap “kejahatan” yang dilakukan oleh PKI. Tentang pengakuan keterlibatan Amerika dan Inggris bisa ditonton film dokumenter Shadow Play karya Lexy Rambadeta atau sumber-sumber lain yang membicarakan perang dingin tahun 1960-an. Amerika dan Inggris adalah Blok Barat yang kapitalis, pada sisi yang berbeda Tiongkok adalah Blok Timur yang komunis. Sementara Soekarno menyatakan Indonesia sebagai negara Nonblok.
Pada suatu saat Soekarno berkunjung ke Amerika. Amerika lantas menyatakan Indonesia sebagai sekutu Amerika. Tidak lama kemudian Soekarno berkunjung juga ke Tiongkok. Karena dianggap menyeleweng Amerika membuat pernyataan baru, bahwa Indonesia sekutu yang membahayakan. Sebagai bentuk kekecewaannya kepada Soekarno Amerika memberikan bantuan persenjataan pada sebuah pemberontakan di Sumatra. Soekarno mengetahui keterlibatan Amerika pada pemberontakan tersebut setelah seorang pilot Amerika tertebak. Maka Soekarno memprotes Amerika di sidang PBB dan mendekatkan diri ke Tiongkok.
Kebijakan Soekarno dengan mendekatkan diri kepada Tiongkok berarti menyatakan diri sebagai lawan, karena itu usaha pembunuhan Soekarno beberapa kali dilakukan, tetapi tidak berhasil. Usaha yang berhasil adalah dengan menggulingkannya lewat tangan Soeharto. Dokumen-dokumen Inggris menyatakan Inggris meminta para jenderal agar membusuk-bususkan PKI yang ini terkait dengan komunisme Tiongkok sebagai musuh Blok Barat: Inggris dan Amerika. Memorandum CIA pada Juni 1962 menyatakan persetujuan Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Presiden Amerika Serikat John Kennedy untuk melikuidasi Soekarno, dan bahkan sumber lain menyatakan kematian John Kennedy ada kaitannya dengan kasus ini
Biarkan Tumbuh
Atas alasan itu saya tidak setuju dengan pernyataannya Irfan Tanjung yang ingin membubarkan kelompok yang mengamalkan ajaran kiri. Bagi saya menjadi mayoritas tidak berarti harus galak kepada yang minoritas. Saya muslim yang sedang menjadi minoritas tidak ingin digalaki oleh yang mayoritas. Saya yang biasa solat duhur di Moskee Al-Hijra, sebagai bentuk deklarasi keimanan saya kepada Allah, tidak ingin dibubarkan oleh orang-orang Kristen yang mayoritas di sini.
Bagi saya biarkan semua pikiran dan keyakinan berkembang. Dunia ini bukan milik seseorang sementara yang lainnya cuma menumpang. Perbedaan itu alamiah saja. Yang kebetulan menjadi mayoritas tak perlu memusnahkan yang minoritas—karena takut mayoritasnya diambil oleh yang minoritas. Biarkan pemikiran dan kepercayaan mencari penganutnya. Masing-masing silakan membuktikan bahwa dirinya yang pantas memiliki penganut paling banyak, dengan cara yang sehat dan adil. Toh Nabi Muhammad juga dulu tidak galak kepada minoritas.
Atas alasan kebebasan memilih pikiran dan keyakinan itupula saya tidak setuju dengan keputusan Kejaksaan Agung yang melarang 13 judul buku pelajaran Sejarah karena pada buku-buku tersebut tidak menyebutkan peristiwa G30 September sebegai kejahatan komunisme. Bagi saya biarkan saja orang menerbitkan buku dengan hasil penemunannya masing-masing. Biarkan pembaca memiliki puluhan gudang data. Dengan begitu pembaca bisa menentukan pilihannya. Jangan kaya zaman Soeharto, cuma satu sumber sejarah, yaitu buku yang ditulis oleh sejarahwan Soeharto.
Smaragdlaan, 28 Maret 2007, 24 AM
Atas alasan kebebasan memilih pikiran dan keyakinan itupula saya tidak setuju dengan keputusan Kejaksaan Agung yang melarang 13 judul buku pelajaran Sejarah karena pada buku-buku tersebut tidak menyebutkan peristiwa G30 September sebegai kejahatan komunisme. Bagi saya biarkan saja orang menerbitkan buku dengan hasil penemunannya masing-masing. Biarkan pembaca memiliki puluhan gudang data. Dengan begitu pembaca bisa menentukan pilihannya. Jangan kaya zaman Soeharto, cuma satu sumber sejarah, yaitu buku yang ditulis oleh sejarahwan Soeharto.
============————-==========
Saya juga gak mudeng dengan sejarah yang ada. Sejarah semakin di pelajari semakin membingungkan. Tidak sesuai dengan yang diajarkan di sekolah DULU… Atau mungkin saya yang emang tidak paham dengan sejarah ya? (BODO)
Saya setuju untuk mengepankan demkrasi yang bermoral baik. biarkan semua tumbuh perbedaan untuk mewarnai dunia ini. Komunis atau ajaran marxisme tidaklah bahaya. komunis bercita-cita mayrakat adil makmur dan sejahtera. tidak seperti kapitalis yang menindas rakyat kecil. kalaupun PAPERNAS, PSI, PKI mau bangkit kembali memajukan dan menyejahterakan RI,why not?? PKI th 1965 tidak memberontak, PKI loyal pada Soekarno. bila PKI berontak dengan G30S nya pastilah Indonesia TERJADI PERANG SAUDARA. tapi PKI sama sekali tidak membalas ketika dibantai habis oleh orde baru dibawah soeharto. justru yang kudeta adalah soeharto demi mencapai presiden RI. PKI dan Soekarno menjadi tumbal untuk suksesnya soeharto jadi presiden. PKI dan Soekarno tidak ingin Bangsa ini jatuh ke tangan nekolim atau imperialis Amerika dan CSnya. maka PKI dan Soekarno tenggelam demi tetap tegaknya NKRI. kini saatnya Kebangkitan Demokrasi dijunjung setelah soeharto lengser. Bangsa yang besar selalu mengahargai jasa pahlwan dan menghargai kebebasan demokrasi. SALAM SUKSES DAN MAJU UNTUK RI!!! Kita hargai Soekarno dan PKI yang “gugur” demi tegaknya NKRI.
Kebebasan memang suatu keharusan di negeri ini, namun mari kita berpikir sejenak, kebebasan seperti apa yang kita semua harapkan? standarisasi kebebasan yang seperti apa? bukankah kebebasan tetap saja berbatas? lalu batasan apa yang seharusnya menjadi kontrol kebebasan? sejarah tetap saja sejarah, subyektifitas tetap saja ada pada penulis sejarah, apalagi pada diri pelaku sejarah? hanya orang yang obyektiflah yang tau batas dan keperpihakan sejarah, mari kita intropeksi diri, bila kita semua mengharapkan kebenaran dari sejara. ayo semua peduli dan berfikir. selamat berjuang demi kebenaran yang berpihak
Segala yang ada dilangit dan bumi ini sudah ada kadarnya. sekuat apapun manusia berusaha maka belum tentu akan mencapai hasil yang maksimal.
seperti hukum kekekalan energi “bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan tetapi dapat dirubah bentuknya”
maka kejayaan imperialisme juga akan mencapai titik jenuhnya, jika hal itu tiba maka terjadilah reaksi balikan.
saya sangat sepakat bahwa kita tidak perlu berlebihan dalam menghadapi persoalan ini. pada kenyataannya suatu ideologis memiliki umur yang jauh lebih panjang dari umur manusia pengikutnya.
pada akhirnya kebenaran itu pasti akan terungkap
Menurut saya sudah saatnya orang-orang yang memang punya agama dihatinya merasa khawatir terhadap kebangkitan komunis(Neokomunisme)..Hal ini harus kita lakukan,karena kehidupan kita yang sekarang ini,perjuangan kita yang sekarang ini akan dinikmati oleh anak-cucu keturunan kita.bagaimana kalau KOMUNISME dibiarkan berkembang dengan segala aneka ragam dan macam,tentunya akan membahayakan generasi kita selanjutnya…
Tapi..hal ini saya katakan tadi kekhawatiran ini..hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang memeang ada agama dihatinya…
maju terus…wahai orang-orang yang ingin menghadang laju komunis di negeri yang kita cintai ini…Allah dan Rasul-Nya bersama kalian…..
assalamualaikum wr.wb
biarkan komunis tumbuh kembali di indonesia,apa salah nya.yang penting tidak merugikan rakyat kecil dan memeras rakayat.mudah mudahan dengan komunis tumbuh lagi di indonesia kaum tani tidak lagi terpinggirkan dan kaum buruh tidak lagi menderita karna dgn gaji minimum.
ayolah semua jgn berpikir dan melihat dgn mata tertutup biar kan lah masing2 orang menuju jaln nya masing masing asl tidak merugikan dan mencelakakan orang lain,jgn melihat sejarah G30s/PKI karna itu semua BOHONG itu hanya rekayasa sang koruptor saja(SUHARTO)untuk mendapatkan kursi jabatan sebagai presiden RI,dan SUPERSMAR itu hanya akal akalan almarhum saja bakn bnar bnar dari bpk SUKARNO,buktinya sampai sekarang ke aslian supersmar masih di ragukan..
biar lah SOSIALIS KOMUNIS berkembang asl jngn menghilangkan ke aslian bangsa indonesia yaitu PANCASILA
Kita yang hidup dan belajar dimasa sekarang seharusnya lebih selektif dalam menerima pelajaran dan pengajaran.Sudah seharusnya pemerintah mencabut TAP MPRS No.XXV/1966 tentang pelarangan Partai Komunis Indonesia dan ormas-ormasnya beserta ajaran marxisme-leninisme di Indonesia. Sebab pelarangan sesuatu ideologi adalah merupakan pelanggaran HAM seseorang dan bertentangan dengan prinsip demokrasi. dan TAP MPRS No XXXIII/1967 tentang pencopotan kekuasaan Soekarno sebagai presiden. Sebab akibat dari pelaksanaan TAP tersebut Bung Karno beserta banyak pendukung-pendukungnya ditahan tanpa proses hukum. TAP tersebut tidak saja merupakan legitimasi kudeta Soeharto, tapi juga merupakan pelanggaran HAM.
kita harus meneruskan perjuangan bung karno…
amerika harus disetrika,..
inggris harus dilinggis,..
jangan sampai negara kita dijadikan basis mereka para imperialis..
seharusnya kita memegang teguh hasil2 karya bung karno,.
nasakom
pancasila
manipol
trisakti
berdikari
maju terus indonesia!!!
Awaaas!
Baru-baru ini ada imel yang masuk ke milis FLP, intinya berisikan tentang pertemuan generasi muda dengan para dedengkot PKI, termasuk Sobron Aidit yang bermukim di Holland. Aku tersentak kaget. Meskipun sesungguhnya tentang pergerakan neo komunis ini sudah banyak juga diindikasikan oleh orang-orang yang peduli, mereka yang pernah terkait secara langsung maupun tak langsung dengan peristiwa berdarah PKI/G30S.
Ada nada kemunafikan di sana, tentang gugat-menggugat, hujat-menghujat dan pernyataan; bahwa para ulama NU pernah membantai PKI masa itu. Sepertinya kalau kita bicara soal siapa yang duluan melukai, dan siapa yang balas melukai, ini takkan pernah ada habisnya. Ini hanya akan menjadi dendam tak sudah dan akibat fatal buat generasi muda, dan sungguh hanya kesia-siaan belaka. Namun, bukan itu masalahnya, tak sesederhana itu, Sodara!
Pihak mereka (para komunis yang hengkang, ngibrit kocar-kacir, dari Tanah Air ke berbagai pelosok dunia itu!) sejak bergulir reformasi di Indonesia, memang langsung mendapat angin segar. Apalagi kemudian di masa pemerintahan Gus Dur, angin segar untuk golongan kiri ini semakin dihembuskan, bahkan mulai menggelombang efeknya…
Sudahlah, aku tak ingin bicara soal politik di blog ini.
Aku hanya ingin berbagi lakonku di waktu kecil. Usia delapan tahun, tinggai di kawasan Sumedang, di mana suasana politik sedang membara, bergejolak. Orang-orang PKI semakin berani, merajalela menyusup ke sana ke mari, ke setiap wilayah dan golongan. Kekuatan mereka sungguh tak terkira!
Di kawasanku itu, banyak juga dedengkot PKI. Bahkan kepala sekolahku termasuk pendukung beratnya. Di kiri dan kanan rumahku berkeliaran tetangga PKI. Sementara aku kebetulan anak seorang tentara, cucu seorang ajengan NU. Golongan yang paling dimusuhi oleh PKI. Puncaknya, mereka sudah menyiapkan lubang-lubang kuburan massal, khusus diperuntukkan bagi tentara dan para ulama beserta keluarganya.
Suatu kali pesta rakyat digelar. Tak jauh dari rumahku, di belakang gedung kediaman Bupati ada empang yang luas. Mereka menyelenggarakan parade perahu hias. Tentu saja sebagai seorang anak, aku ikut menonton dan kepingin juga lalayaran dengan perahu hias.
Pas ada kesempatan untuk menaiki perahu, aku pun ikut berebut anak-anak lain mengerumuni perahu cantik itu. Tiba-tiba ada suara yang mengejutkan.
“Anak saha tah?”
Anak siapa, tanya seorang dedengkot PKI dengan nada meninggi.
“Euh, ini mah anaknya Bapak tentara Anu… Cucunya ajengan…” sahut tukang perahu.
“Nanti sajalah! Anak-anak lain dulu!” sergahnya galak.
Maka aku pun kembali ke tempat teduh, menunggu, menunggu, menunggu… sampai sore!
Seorang anak perempuan sebayaku tiba-tiba menghampiri, sebut saja si Neneng, kutahu dia anak dedengkot PKI.
“Mau naik perahu, yah? Sini, nanti bareng Neneng, yah,” ajaknnya tentu saja kusambut dengan senang hati. Waktu sebuah perahu mendekat, si Neneng melambai ke arahku. Aku mendekati perahu, kira-kira berjarak setengah meter lagi, tangan anak itu menarik lenganku…. kuat sekali!
Byuuur! Aku pun tercebur ke empang, maksudku diceburkan oleh si Neneng. Bahkan dilanjutkan dengan menendang bokongku kuat-kuat. Sebelum tenggelam, masih kulihat bagaimana ortunya di panggung yang sedang menari genjer-genjer, terbahak-bahak melihat kemalanganku.
Kakiku menancap batu runcing, sobek lebar di dekat tulang kering… dalaaam sekali! Luka yang dijahit itu membekaskan “luka yang dalam” bukan saja di fisik melainkan juga di batin, secara psikis aku traumatis!
Takkan kulupakan juga bagaimana kakekku, setiap kali dinihari akan pergi Masjid Agung, pulangnya selalu ada yang menzalimi. Kalau bukan dilempari, hingga wajahnya berdarah, kepala bocor, tentu dicegat anak-anak muda PKI dan diteror. Hingga akhir hayatnya kakekku masih tetap istiqomah, jalan kaki pergi ke Masjid Agung subuh-subuh. Dan semakin banyak jua luka-luka yang harus dideritanya…
Sementara di pegunungan, sawah-sawah para petani direbut, bahkan ada yang dibakar. Korban pun bergelimpangan dari pihak para dai, kyai yang dianggap menghambat gerakan meraka.
Neo PKI memang sudah bangkit, Sodara!
Jangan pernah menafikan hal ini dengan pembenaran-pembenaran, apalagi hanya mendengar cuap-cuap mereka secara sepihak.
Bagiku pribadi, tak ada tempat bagi komunis di Indonesia… Demi Allah!
Jangan pernah terulang sejarah yang sangat melukai itu. Maka, waspadalah, terutama generasi muda kita. Kalian jangan sampai terkecoh dengan simbol-simbol, kesetaraan, kebersamaan, menghalalkan segala cara.
Sangat piawai meraka menggembor-gemborkan tentang ketakadilan, kemiskinan, padahal hakikatnya malah dikelirukan. Biasanya yang terkecoh memang yang lugu-lugu, generasi muda. Percayalah, mereka dengan mudah memelintir; kemiskinan, ketakadilan demi kepentingan gerakannya.
Dan negeri kita ini, Indonesia, memang sangat subur sebagai tempat tumbuh-kembangnya paham komunisme. Ketakadilan di mana-mana, yang kaya semakin kaya, yang miskin tinggal menanti ajal dalam kemiskinan. Ketakadilan pun terjadi di segala bidang.
Meskipun demikian, komunisme bukan jalan terbaik bagi kita demi meraih kebahagiaan. Ada banyak jalan menuju ke sana, yakinlah itu!
Sekali lagi, awaaaas…! Waspadalah, Sodara!
Salam cinta selalu!
Pipiet Senja
——————–
Terimakasih atas komentarnya Mbak Pipiet. Dari seorang kakek di Belanda saya mendengar masjid-masjid di kota dia disegel juga oleh orang-orang PKI.
Memperdebatkan komunisme, PKI, Soekarno, tidaklah akan habis. Mereka adalah bagian masa lalu dari bangsa ini. Ketakutan akan komunisme didengung-dengungkan akan bangkit kembali saat ini dalam wajah baru ternyata sama dan seheboh dengan pengakuan bahwa keyakinan dan ideologi si penentang komunismelah yang paling benar.
Sekali lagi saudara-saudara, komunisme sudah lewat masanya. Sejarah sudah menjadi pengadil yang bijak dan menunjukkan kegagalan komunisme di berbagai belahan bumi. Sudah benar-benar matikah ia? Seperti pemujaan terhadap berhala, animisme, atau pengkultusan individu, maka komunisme bakal tetap ada. Ia akan bersemayam di kepala setiap individu yang mengagung-agungkan kemampuan rasionya dan menafikkan Sang Maha Adil, meskipun dalam bentuk primitif dari sifat manusia : kemunafikan dan kesombongan. Komunisme-seperti ideologi lain- akan berubah wujud menjadi lebih halus atau lebih kasar. Lihatlah apa yang dilakukan China, Vietnam atau Laos. Mereka tetap mengaku komunis, tapi perlahan dan pasti semakin rakus dan bertindak ala kapitalis. Apa yang dilakukan Amerika dan Barat di Irak dan Afghanistan sekarang adalah dorongan dari kapitalisme–saudara kandung komunisme. Keduanya mewarisi darah dari ibu yang sama bernama materialisme-rasionalisme. Kali ini pun, sang saudara kandung tengah sekarat. Kapitalisme ternyata rapuh, serapuh komunisme, yang hanya bisa berilusi tentang kesejahteraan masyarakat, tentang dunia yang damai, atau tentang perdamaian.
Membiarkan komunisme berkembang juga tidak bijak, tapi melarang keyakinan seseorang terhadap ideologi juga hal yang mustahil. Demikian pula membela Soekarno dan PKI sebagai korban dari kudeta Soeharto juga tidak selamanya benar. Apakah yang dilakukan Soekarno sejak 1959 adalah hal benar dan baik bagi negeri ini? Kita sering salah menilai bahwa reformasi hadir setelah 32 tahun rakyat Indonesia hidup dalam rezim totaliter. Sebenarnya kita pernah mengalami masa kediktatoran penguasa yang lebih panjang. Mengapa tidak menghitung era 1959-1965 sebagai era kediktatoran Soekarno? Bukankah saat itu DPR mandul, pers disensor dan dibreidel, serta hukum berpihak pada penguasa. Era Soekarno pula, PSI dilarang, Partai Murba dibubarkan, bahkan Sutan Syahrir dijebloskan ke bui gara-gara tidak sependapat dengan Soekarno. Hukum adalah apa yang Soekarno ucapkan dan lakukan. Kemudian datanglah Soeharto dan Orde Barunya. Apa yang terjadi? Rakyat ternyata hanya lepas dari mulut harimau tapi masuk ke mulut buaya.
Bagi saya, Soekarno benar-benar hebat hingga 1949. Sesudahnya, ia adalah orang yang butuh penyaluran syahwat politik.